KELIRU, MENGGUNAKAN OBAT PENURUN PANAS SAAT DEMAM

Dikutip dari buku ‘Mukjizat Suhu Tubuh’. Penulis: Masashi Saito. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

“Tidak terbatas hanya ketika kita terserang flu, “menghangatkan badan” merupakan cara sehat yang baik dilakukan setiap saat.

Ketika saya kecil, jika terserang demam dan tidak enak badan, saya pasti disuruh mengenakan 2 helai celana dalam (CD). Jika saya bersin2, batuk, dan menunjukkan gejala terkena flu, nenek bukannya memberikan obat flu, melainkan CD. Jika dipikirkan sekarang (setelah menjadi dokter), saya mengerti bahwa mengenakan 2 CD maksudnya untuk menghangatkan badan.

Tidak hanya dengan melapis CD, boleh juga dengan cara mandi berendam di air hangat, memakai kantong penghangat kecil (kairo), atau memakai botol air panas (yutanpo) pun boleh saja. Yang penting, pada kondisi tubuh kurang fit, upayakan untuk menghangatkan tubuh.

Tetapi banyak orang yang malah melakukan sebaliknya. Contohnya, minum obat flu. … hindarilah langsung minum obat flu, karena itu itu tidak baik bagi tubuh Anda.

Obat flu umumnya bukan untuk menaklukkan virus penyebab flu, melainkan gabungan berbagai macam komposisi obat2an untuk meringankan gejala penyakit. Kebanyakan komposisi obat tersebut menekan kerja saraf parasimpatik dan merangsang saraf simpatik.

Oleh karena itu, jika orang yang sedang kelelahan karena bekerja minum obat flu, peredaran darahnya yang sudah tidak begitu baik malah jadi makin memburuk. Kondisi ini memicu penurunan suhu tubuh (suhu tubuh rendah) dan berisiko menurunkan daya tahan tubuh.

Lebih buruk lagi dari obat flu adalah “obat analgesic antipiretik” (analgesic = pereda nyeri/rasa sakit, anitipiretik = penurun demam). Kebanyakan obat analgesic antipiretik bersifat meningkatkan kinerja saraf simpatik. Tetapi risikonya bukan cuma itu saja. Bahaya obat itu (sesuai namanya) yaitu menurunkan suhu tubuh.

Orang yang se-hari2 bersuhu tubuh rendah dan lemah terhadap demam, bisa saja merasakan lesu dan meriang berat pada suhu tubuh 37oC, sehingga menomorsatukan minum obat penurun demam. Padahal, panas tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh guna bertarung melawan virus. Menurunkan demam dengan obat penurun panas merupakan perbuatan keliru, karena menghambat sistem kekebalan tubuh. Inilah sebabnya dokter yang betul2 paham akan risiko obat penurun panas tidak dengan mudah meresepkannya.

Orang yang kurang kuat fisiknya, seperti lansia, adakalanya memerlukan obat penurun panas pada sekitar suhu 38,2 oC. Obat penurun panas yang diberikan pada saat itu adalah jenis yang paling tidak membebani tubuh, yaitu asetaminofen, disesuaikan dosisnya sambil melihat perkembangan pasien, serta diberikan dengan hati2 agar suhu tubuh bertahan pada kisaran 37 oC. … Oleh karena itu, jangan sembarangan minum obat, sekalipun itu obat2an bebas.

Saat ini di AS, jarang sekali dokter meresepkan obat untuk gejala awal flu. Saya sendiri, sebagai dokter, jika terserang flu bukannya minum obat, hanya minum (suplemen) vitamin C dan magnesium. .. Alasannya, vitamin C bekerja paling efektif saat bersama-sama golongan bioflavonoid, kalsium, dan magnesium. Selain itu, magnesium cenderung kurang dapat diambil dari makanan se-hari2, sehingga baik dikonsumsi bersama untuk menggiatkan daya kerja vitamin C.”

ULASAN WIED HARRY:
Membandingkan dengan kebiasaan keluarga Dr. Masashi Saito, kebiasaan keluarga kami pun serupa. Tiap kali kami yang saat itu masih kanak2 mengalami gejala2 akan menderita flu (bersin2, kurang enak badan – “greges2” panas-dingin), ibu kami selalu memberi kami minuman wedang jahe panas. Air seduhan jahe ini harus diminum ketika masih setengah panas atau setelah hangat, tidak boleh diminum setelah dingin.

Nah, kearifan lokal seperti ini saya yakin juga dilakukan masyarakat Indonesia di banyak daerah lainnya untuk menangkal flu, misalnya mungkin di Jawa Barat masyarakat biasa memberikan bandrek atau lebih banyak minum sarabba’ jika di Sulawesi Selatan. Baik bandrek maupun sarabba’ adalah jenis minuman panas (Jawa: wedang) terbuat dari bahan utama jahe dan gula merah.

Dalam jahe terdapat senyawa utama gingerol, yang bersifat menghangatkan. Baik wedang jahe, bandrek, maupun sarabba’ bisa saja “diperkaya” dengan bahan2 bumbu rimpang (empon2) atau rempah2 lainnya, misalnya lengkuas, merica/lada, cengkih, kapulaga, dll. Dan nyatanya, sebagian bahan2 yang ditambahkan ini pun banyak mengandung senyawa aktif “zat pedas” yang bersifat menghangatkan, di antaranya merica/lada berlimpah piperin, cengkih banyak mengandung eugenol dan metil salisilat (yang ini bersifat sebagai pereda nyeri alami), lengkuas kaya akan galangol.

Dan biasanya kalau badan “greges2” mau flu, kita terdorong untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal. Bila perlu, masih ditambah dengan “ubel2” di leher seperti yang di foto itu – tentu maksudnya bukan supaya gaya deh, tapi supaya tubuh kita hangat. Zaman kami kecil dulu, ibu kami juga mewajibkan kami mandi air hangat sambil “wuwung” (mengguyur kepala di bagian ubun2 dengan air hangat sambil “di-pyok2” alias di-tepuk2 ringan). Usai mandi, biasanya kami diberi makanan panas yang sedappp, seringnya nasi + sup atau nasi + gulai/kare! Memang betul sih, kombinasi ini cukup mujarab, karena ketika bangun tidur esok harinya badan sudah terasa fit. Tidak ada lagi bersin2 …

Nah, setelah saya tekun menjalani pola makan enak-sehat-alami Food Combining, jika mengalami hal seperti ini otomatis tubuh saya “menolak” makan. Secara alami, mulut hanya menagih diisi buah2an segar dan sayur2an segar sepanjang hari dan bisa berlangsung beberapa hari. Biasanya yang bikin saya sowaq begini adalah jika saya bergabung pada acara orang lain selama beberapa hari, misalnya wisata bareng. [Kebayang dong makannya pasti amburadul! Sebetapapun saya sudah berusaha makan sesehat dan sealami mungkin – bahkan seringkali bawa bekal tomat, paprika, timun, dan buah2an segala, biasanya masih terasa terlalu nakal untuk tubuh saya yang berprinsip “lebih baik seminggu ga ketemu nasi, daripada sehari ga ketemu buah2an dan sayur2an segar”.

Biasanya, beres acara pasti tubuh saya memberikan sinyal: bersin2 parah! plus tenggorokan kering (gara2 kebanyakan terasup MSG). Kalau sudah begini, langsung saya gelontor dengan ber-jerigen2 – hehe engga ding, yang bener adalah ber-mug2 – jus sayuran. Jus sayuran biasanya dari kombinasi caisim, wortel, tomat, dengan/tanpa timun – karena memang sayuran ini yang pasti ada stoknya dalam lemari es, plus tambahan air jeruk lemon. Jus sayuran ini saya minum sesering yang saya suka. Esoknya, gejala flu pasti sudah tak ada jejaknya. Nah, kalau dianalisis, jus sayur campur ini sesuai dengan kebiasaan Dr. Masashi Saito minum suplemen vitamin C dan magnesium, karena zat2 tersebut juga banyak terkandung dalam jus sayuran.

Bagaimana dengan kebiasaan Anda, para Sahabat Sehat? Boleh berbagi cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s