The World History of Mental Revolution

Dari sebuah artikel berjudul “The Journey of Mental Revolution” yang dimuat di The Citizen Daily disebutkan bahwa :

14 Juli 1789 adalah tanggal dalam sejarah revolusioner dunia adalah hari yang revolusioner bagi Perancis saat menyerbu penjara Bastille yang terkenal dan membebaskan para tahanan. Revolusi Perancis akan bertujuan untuk memperkenalkan perubahan radikal dalam hampir setiap bidang kehidupan, termasuk cara orang berpikir Eropa dan bahkan dunia.

Dalam hal mentalitas, Revolusi Perancis membawa perubahan luas ke dunia dengan penyebaran pemikiran liberal, demokrasi, dan nasionalisme. Selama periode waktu yang sama, Revolusi Industri itu membawa perubahan sosial dan ekonomi ke Eropa sebagai fokus kegiatan ekonomi bergeser pedalaman.

Revolusi ini berhasil dalam menghilangkan feodalisme dari Eropa, memperluas pendidikan dan memperluas kesempatan bagi seluruh penduduk. Termasuk juga perluasan pendidikan meningkatkan pengakuan hak-hak asasi manusia (HAM). Revolusi abad ke-18 Eropa meninggalkan warisan bagi seluruh dunia dalam hal mengubah bentuk pemikiran.

Salah satu yang paling berpengaruh dari bentuk-bentuk baru pemikiran berasal dari Karl Marx yang diekstraksi konsep revolusi mental untuk berusaha menghilangkan membentuk publik pikiran segala sesuatu yang dogmatis.

Pada tahun 1919, Rusia mulai percobaan dengan Marxisme, Joseph Stalin mengambil revolusi dalam pemikiran bahwa Marxisme ditawarkan ke tingkat berikutnya dengan menawarkan teori revolusi dua tahap di mana revolusi komunis akan terwujud pertama kemudian orang bisa “merevolusi “dalam hal budaya dan cara berpikir. Teori Stalin itu mudah diadopsi oleh gerakan-gerakan sosialis di Amerika Tengah dan Selatan

Dalam dunia modern, ide-ide revolusi mental yang telah diungkapkan oleh John. W. Taylor, seorang ahli dalam ilmu manajemen. Taylor telah menganjurkan metode untuk mengubah persepsi pekerja berdasarkan tradisi karya ilmiah.

Di bidang politik, konsep revolusi mental dapat dilihat pada peristiwa dunia seperti revolusi komunis di Kuba, dan rezim sosialis mengambil alih kekuasaan di Venezuela, Bolivia, dan bahkan Brasil, Di semua negara ini Amerika Latin revolusi mental yang didatangkan dengan mengubah cara pemerintah beroperasi, yang birokrasi dan monopoli. Negara ini semua datang ke kesimpulan yang sama: mereka ingin budaya feodal yang diwariskan dari generasi ke generasi dengan latifundistas nya (pemilik tanah besar) akan segera dihapus.

Para pemikir revolusioner modern Amerika Latin ingin orang-orang mereka untuk mengubah secara radikal dalam hal cara mereka berpikir, cara merasa, dan cara percaya. Mereka berusaha untuk melibatkan semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, agama, dan sebagainya, sehingga mereka dapat menemukan rasa yang sebenarnya dalam bermasyarakat. Gerakan yang mendorong revolusi mental akan mengubah cara orang hidup dan membawa masyarakat yang lebih adil dan beradab.

Sementara dari buku Gandhi’s Experiments with Truth: Essential Writings by and about Mahatma Gandhi (Richard L. Johnson ed., 2007),

Gandhi mengedepankan argumen bahwa “kemerdekaan politik (self-rule) harus berdasarkan pada revolusi mental, yaitu perubahan total mental rakyat negara jajahan”

Konsep revolusi mental seperti ini menduduki posisi sentral karena asumsi utama pemikiran Gandhi adalah bahwa pemerintahan negara yang merdeka harus berlandaskan atas kekuatan moral.

Olav Iban dalam Karya Ilmiahnya yang berjudul
PEMIKIRAN BUDAYA SUTAN SJAHRIR Menuju Kebudayaan Indonesia Baru mengambil kesimpulan :

Sjahrir mendiagnosa permasalahan masyarakat Indonesia dengan dua sudut pandang prinsipal: dari dalam, terdapat masalah kompleks rendah diri; dan dari luar, terdapat masalah rendahnya pendidikan. Kedua masalah itu diderita oleh satu tubuh yang rusak, yakni tubuh yang masih dikuasai feodalisme beserta alam pikirannya yang mistis. Juga ditemukan adanya simtom fasisme dan kapitalisme berlebihan dalam tubuh itu. Komplikasi ini adalah penyakit yang dinamakan permasalahan budaya Indonesia.

Guna kesembuhannya, Sjahrir menyarankan agar disusun sebuah kebudayaan baru. Sjahrir menulis resep dengan dua jenis obat yang satu sama lain saling mendukung. Obat pertama adalah kemerdekaan sosial, yang harus ditelan dengan cara revolusi mental. Obat kedua adalah pendidikan, yang hanya bisa diperoleh dari dunia Barat.

Akan tetapi, Sjahrir menegur bahwa kedua obat tersebut tidak akan mujarab tanpa keinginan untuk sembuh dari pasien sendiri. Sehat harus menjadi tujuan dari si pasien, dan dalam konteks ini, Sjahrir yakin bahwa masyarakat sosialis adalah kesehatan itu.

Source : dari beberapa sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s