Dibanderol dengan harga terjangkau, apakah YiCamera benar-benar pesaing GoPro? (REVIEW)

YiCamera menjadi perbincangan di ranah internasional dalam beberapa minggu terakhir setelah mulai dijual di toko online resmi Xiaomi di China dengan harga USD 64 (Rp 834.000). Bagi para penggemar fotografi, nama GoPro dan kamera sejenis lainnya jelas sudah tidak asing lagi, namun pertimbangan harga masih menjadi salah satu alasan sebelum membelinya. YiCamera menggebrak dengan harga kurang dari separuh harga GoPro, dan inilah mengapa kamera ini makin santer dibicarakan.

Satu hal yang perlu dicatat sebelum membicarakan YiCamera lebih jauh adalah kamera ini bukanlah produk Xiaomi, meskipun kerap disebut sebagai “GoPro-nya Xiaomi”. Memang penjualan perangkat ini dilakukan secara eksklusif di website Xiaomi dan banyak mendapat dukungan dari pembuat smartphone asal China tersebut untuk masalah pemasaran dan ketersediaan produk, namun tidak ada satupun branding logo Xiaomi di kameranya. YiCamera dibuat oleh Xiaoyi, yang juga menjual webcam di toko Xiaomi. Ini adalah salah satu dari banyak perangkat pintar hasil kerja sama Xiaomi dengan perusahaan lain.

Di bawah ini adalah perbandingan spesifikasi YiCamera dengan GoPro Hero kelas entry-level:

Kualitas gambar

Bila harus mendeskripsikan kamera ini dalam satu kata, maka jawabannya adalah: sampah. Ketika dilakukan pengujian YiCamera tanpa skenario pengambilan gambar (hanya digunakan untuk mengambil footage) maka akan terasa “cukup baik.” Memang terkadang saya mendapat hasil lumayan, namun kebanyakan adalah sampah. Di atas kertas, spesifikasi dari YiCamera mampu mengambil video dengan resolusi 1080p dan kecepatan 60 FPS yang seharusnya bisa menghadirkan gambar setara dengan kualitas GoPro di 1080p 30 fps. Namun kualitas kamera tentu saja tidak dapat dinilai dari FPS dan besar pixel semata.

Sedikit informasi, sebelumnya saya pernah menggunakan GoPro Hero 3+, sebelum akhirnya tercebur ke sungai. Saya juga sempat membuat video menggunakan alat-alat video amatir hingga profesional seperti kamera smartphone, camcorder kelas consumer, DSLR, hingga kamera profesional yang digunakan di stasiun TV.

Ada dua momen yang saya ambil menggunakan YiCamera: pertama adalah di sebuah konser dengan pencahayaan remang-remang. Kedua adalah saat mengendarai sepeda di Shenzen, lingkungan tempat saya tinggal. Ini adalah contoh video yang telah digabung menjadi satu (sengaja dipercepat untuk membuatnya tetap pendek).

Hal pertama yang menyebalkan, apapun yang tidak ada di tengah frame kehilangan fokus, bahkan yang jaraknya sangat jauh. Ini mengindikasikan bila lensanya dibuat dari material murahan, dan parahnya lagi tidak bisa digunakan pada sudut panjang dengan lebar 155 derajat. GoPro saya tidak pernah mengalami masalah ini, dan bahkan memiliki viewing angle yang lebih lebar.

Rasa kecewa masih berlanjut, karena YiCamera tidak dapat mengenali cahaya terang atau pun backlight. Anda bisa melihat di video yang diambil dari atas sepeda, dimana langit sedang mendung, hasil gambar yang didapat seperti menembus kabut. Sementara ketika dilakukan pengambilan gambar di area dengan cahaya cukup, perlu waktu lama untuk mendapatkan exposure yang seimbang. Di video konser, dengan cahaya gemerlap, mengalami problem serupa. Sulit rasanya untuk mendapatkan gambar masing-masing personel dengan jelas. Tak mengherankan bila hasil rekaman juga menampilkan banyak ‘semut’.

Fitur image stabilization adalah syarat mutlak untuk sebuah action camera. Sayangnya kamera ini kurang memperhatikan itu. Setiap terjadi goncangan, maka detail akan hilang dan distorsi lensa akan membuat hasil gambar menjadi lebih buruk.

Sebenarnya masalah ini tidak akan terjadi bila Xiaoyi memilih untuk menggunakan lensa yang lebih cepat. Aperture pada lensa yang digunakan permanen f/3.6 – rasanya terlalu sempit untuk pengambilan gambar. Sebagai perbandingan, semua varian GoPro dibekali dengan lensa f/2.8 (semakin kecil angkanya, aperture akan semakin lebar). Hal ini akan mengurangi gambar yang blur dan membuat gambar yang didapat jauh lebih tajam.

YiCamera baru menunjukkan performa yang lebih baik ketika digunakan untuk mengambil gambar diam. Tidak terlalu mengecewakan dan warna yang dihasilkan cukup akurat. Akhirnya saya mencoba mengambil gambar dari atap bangunan tempat saya berdiri, dan hasilnya cukup baik. Hasil pengujian menunjukkan bila pengambilan gambar di dalam ruangan masih bisa menghasilkan gambar yang baik, selama pencahayaan mendukung. Hasl foto YiCamera bisa dilihat di sini.

Bicara mengenai suara, hasil yang didapat nyaris sama dengan jika Anda melakukan rekaman dengan mic dari smartphone. Ketika dicoba untuk merekam konser, suaranya terlalu nyaring, namun jelas Anda tidak bisa berharap lebih dari kamera semacam ini bila bicara soal audio.

Desain dan kenyamanan pemakaian

Kebanyakan orang mungkin akan berasumsi bahwa YiCamera adalah GoPro versi China. Terlihat dari bentuk kotak yang khas dan lensa berukuran besar. Secara keseluruhan ukurannya memang sama, namun sedikit lebih lebar dan posisi lensanya membuat Anda tidak mungkin memasangnya di case pelindung milik GoPro.

Seperti halnya GoPro, ada tombol power di depan, tombol shutter di atas, dan tombol Wi-Fi di samping. Tombol power akan menyala dengan warna berbeda yang menunjukkan status baterai dan notifikasi lain yang bisa Anda lihat detailnya di dalam buku panduan. Keberadaan lampu ini adalah sebagai pengganti dari tidak adanya LCD yang biasanya berguna untuk menampilkan persentase baterai yang tersisa, berapa banyak video yang sudah direkam, dan mode apa yang digunakan.

Tombol di bagian depan kamera berfungsi sebagai penganti antara mode foto dan video. Kamera ini selalu berada dalam mode foto saat dinyalakan, sehingga sedikit merepotkan. Yang lebih menjengkelkan dan membuat frustrasi adalah waktu untuk mengaktifkan YiCamera. Jika menggunakan GoPro, Anda hanya memerlukan beberapa menit saja, sampai terdengar bunyi ‘bip’ dan bisa langsung merekam. Sementara pada YiCamera, Anda harus menunggu 10 sampai 15 menit setelah dinyalakan dan tidak ada indikator ketika sudah siap digunakan.

Kualitas bahan dari YiCamera secara keseluruhan cukup solid. Namun perlu dicatat bila YiCamera tidak disertai dengan pelindung apapun – dalam kenyatannya, belum ada toko yang menjualnya – namun yang paling penting adalah jangan sampai lensanya tergores. Dengan menambah USD16 (Rp 250 ribu), Anda bisa mendapatkan tongsis. YiCamera sendiri bisa dipasang ke tripod atau monopod dengan mounting yang sama.

Aplikasi

Aplikasi YiCamera sangat mirip dengan milik GoPro. Rasanya cukup yakin ada campur tangan Xiaomi dalam pembuatannya, karena sangat intuitif dan mudah digunakan. Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengendalikan kamera dan menampilkan preview, selain tentunya untuk memutar video ataupun memindahkan video dari kamera.

Untuk menghubungkan kamera ini ke Wi-Fi via aplikasi juga sangat mudah dan bisa dilakukan dari dalam aplikasinya, meskipun terkadang harus dicoba berkali-kali. Anda juga bisa melakukan streaming konten video yang direkam ke perangkat lain. Tentu saja ukurannya sangat besar dan tidak jarang terjadi crash (dalam pengujian saya menggunakan OnePlus One). Jeda waktu yang terjadi saat melihat hasil perekaman di perangkat lain adalah sekitar 2 sampai tiga detik.

Baterainya juga cukup boros, meskipun secara keseluruhan daya tahan baterai YiCamera masih tetap terbilang baik. Setidaknya saat digunakan dalam pengujian belum pernah sampai mati kehabisan baterai.

Saat dicoba untuk memutar video pada aplikasinya, semua berjalan mulus. Anda juga bisa melihat beberapa informasi penting, seperti sisa baterai dan kapasitas penyimpanan.

Aplikasi ini juga menyediakan beberapa mode pengambilan gambar untuk digabungkan. Anda dapat membuat share. Perlu dicatat, mode ini tidak akan berfungsi tanpa aplikasi.

Apakah layak dibeli?

Bila Anda benar-benar tidak memiliki budget untuk membeli GoPro kelas entry level seharga USD 130 (Rp 1,7 juta), atau kamera sejenis seperti Sony Action Cam (seri HDR-AS20/B kini dijual dengan harga USD 150), namun memerlukan kamera yang bisa digunakan untuk beragam keperluan outdoor, Anda bisa mempertimbangkannya, meskipun jelas ini bukan alternatif untuk GoPro.

Menurut saya, kemampuan perekaman video YiCamera setara dengan kebanyakan smartphone kelas mid-end sampai high-end. Bila Anda memiliki smartphone dengan kamera yang cukup baik, maka lupakan kamera ini. Perlu dicatat bila GoPro memiliki banyak sekali aksesori, dan YiCamera hanya memiliki tongsis. Ada baiknya Anda membuat keputusan tidak semata karena harga, namun juga aksesori yang akan dibeli. Bahkan seluruh GoPro sudah disertai dengan housing waterproof yang membuatnya memiliki nilai plus.

Singkat kata, YiCamera memang mengecewakan, namun saya tidak bisa menolak fakta bila Anda tidak akan menemukan kamera action lainnya di rentang harga yang sama, kerena memang belum ada opsi lain untuk rentang harga ini.

Sumber : https://id.techinasia.com/review-yicamera-pesaing-gopro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s