Installing R, Java without root privileges

I needed R, Java and rJava to be installed on remote computer, but I did not have root privileges (what a pity). The installation of R in local directory is very easy and described elsewhere (http://unix.stackexchange.com/questions/149451/install-r-in-my-own-directory). rJava installation is a bit tricky, but still possible.
During installation, rJava throws a lot of errors (the most common is “Unable to compile a JNI program”). To solve this, I was to accurately modify Java environment variables.
But, from the very beginning.

  1. Install R (R-3.1.1 in my case)
  2. Download Oracle 1.7.0u71 JDK from here (http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/jdk7-downloads-1880260.html).
  3. Unpack it to /home/user/local/lib.
  4. To install rJava correctly without errors, specify all necessary environment variables in .bashrc. Add these lines to the bottom of .bashrc:
    # java related variables
    export JAVA_HOME="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/"
    export JAVA_JRE="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/bin"
    export PATH="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/bin:$PATH"
    export PATH="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/bin:$PATH"
    export JAVA_CPPFLAGS="-I$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/include -I$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/include/linux"
    export JAVA="$JAVA_HOME/bin/java"
    export JAVA_LIBS="-L$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/lib/amd64/server -ljvm"
    export LD_LIBRARY_PATH=$JAVA_HOME/jre/lib/amd64:$JAVA_HOME/jre/lib/amd64/server
  5. Source .bashrc file in console: source .bashrc
  6. Run R CMD javareconf -e in console to ensure that all is correct.

After this installation of rJava should be successful.

 

source : https://yetanotherbiochemblog.wordpress.com/2014/11/07/install-rjava-for-local-java-installation/

Advertisements

Sisi lain transportasi online

 Sebenarnya saya sudah agak malas menulis soal transportasi online. Karena sebelumnya saya mengira pemerintah/otoritas terkait tidak paham wujud asli dari startup2 transportasi online (dan juga e-commerce) yg sejatinya mirip2 skema ponzi (menggunakan uang investor kedua untuk membayar keuntungan investor pertama, lalu menggunakan uang investor ketiga untuk membayar keuntungan investor kedua, dst. Detailnya pernah saya tulis satu setengah tahun yg lalu disini: https://www.facebook.com/satria.mahendra/posts/10153669779028172) Tapi ternyata pemerintah tahu nature bisnis aslinya memang seperti itu. Sayangnya pemerintah malah mendukung dengan alasan mengembangkan ekonomi kreatif, inovasi teknologi, dsb. (https://kominfo.go.id/content/detail/10849/pemerintah-optimistis-ada-5-unicorn-di-2019/0/sorotan_media). 
Pemerintah dalam hal ini Kemkominfo tahu soal strategi exit melalui bursa saham, bahkan mendukung strategi exit tsb. Pemerintah bahkan mempermudah persyaratan startup untuk melantai di bursa. Jika perusahaan lain umumnya harus menyerahkan laporan keuangan 3 tahun terakhir, untuk startup hanya 1 tahun terakhir. Inilah yg bikin saya mulai malas membahas soal startup model begini. Karena Pemerintah yg saya harapkan dapat menjinakkan bom waktu yg suatu saat akan meledak ini, malah membiarkan bahkan merawat bom itu. 
Namun berhubung di beberapa daerah (Jabar, Banyumas, Magelang, Batam, Yogya, Solo, Garut, Pekanbaru, Makassar, Medan, dan Tasikmalaya) Pemdanya justru melarang keberadaan transportasi online, membuat saya sedikit bersemangat untuk kembali menulis soal ini. Karena saya melihat, solusi yg diberikan oleh Pemda berupa pelarangan kurang tepat juga. Karena permasalahan sebenarnya dari transportasi online itu bukan pada keberadaannya, ataupun pada teknologi yg dipakai. Sekarang kan terkesan Pemda2 itu anti kemajuan teknologi, dianggap mundur kebelakang pemikirannya, padahal zaman makin maju. Kemajuan teknologi tidak mungkin dapat dibendung. Kitalah yg harus beradaptasi jika tidak mau digilas. 
Mengatakan pemda2 tsb sebagai kolot, terbelakang, anti kemajuan teknologi dsb, hanya karena melarang keberadaan transportasi online sangatlah tidak tepat. Karena di beberapa negara maju pun terjadi pelarangan transportasi online seperti di beberapa kota di AS dan Kanada, Bulgaria, Denmark, Hungaria, Italia, Perancis, Spanyol, Belanda, Taiwan, Northern Territory – Australia, London-UK, dll (https://www.cntraveler.com/story/where-uber-is-banned-around-the-world; http://www.news.com.au/finance/business/uber-blocked-from-operating-in-london-after-company-deemed-not-fit-and-proper/news-story/6dd3b48128316372a016379ad0437bf1)
Apakah mereka akan kita sebut kolot juga? Tentu tidak. Bahkan negara2 tersebut jauh lebih maju daripada kita. Lalu mengapa mereka melarangnya? Karena memang ada permasalahan mendasar yg membuat keberadaan transportasi online tersebut menyulut konflik horizontal dengan transportasi konvensional. 
Permasalahan tersebut terletak bukan pada teknologinya namun pada SUBSIDI yang dijadikan strategi perusahaan transportasi online untuk merebut pangsa pasar transportasi konvensional. 
SUBSIDI TARIF
Mungkin banyak orang yang tidak tahu mengapa tarif transportasi online bisa sangat murah dibandingkan transportasi konvensional. Ada juga sebagian yang berpendapat karena sharing economy yg membuat cost dapat ditekan sehingga harga menjadi murah. Namun faktanya bukan sharing economy yg membuat tarif mereka murah, melainkan SUBSIDI DRIVER (atau Subsidi Penumpang, tergantung sudut pandangnya).
Sebagai ilustrasi, jika anda membayar Rp.2500/km bukan berarti sejumlah itu pula yg didapat oleh driver. Driver sebenarnya mendapatkan Rp.4000/km (diluar bonus). Rp.2500 dari uang anda, Rp.1500nya dikreditkan oleh perusahaan ke rekening Driver. Inilah yg disebut SUBSIDI.
SUBSIDI inilah yg sebenarnya menggerakkan roda perusahaan transportasi online. Tanpa Subsidi, tarif mereka tidak akan murah karena driver pasti tidak mau dibayar murah. Sebaliknya jika tarif mahal, maka penumpang akan sepi. 
Jadi SUBSIDI inilah yg sebenarnya menjadi biang masalah antara Transportasi Online dan Konvensional yg tidak mungkin memberikan subsidi karena itu sama artinya perusahaan merugi. Sedangkan perusahaan Transportasi Online, meskipun merugi, tapi mereka tidak ambil pusing selama suntikan modal dari venture capital/investor terus mengalir. Inilah yg disebut dengan Bakar-Bakar Uang. Istilah ini bukan karangan saya, tapi memang istilah resmi yg dipakai, bahkan salah satu parameter keberhasilan startup dimata investor adalah tingginya BURNING RATE. 
Mungkin ada yg bertanya, darimana perusahaan transportasi online dapat untung jika mereka hanya bakar2 uang? Sebagaimana startup lainnya mereka akan mendapat untung setelah menjual perusahaannya kepada perusahaan lain (akuisisi) atau menjual sahamnya di bursa. “Tapi kan itu perusahaan merugi, emang ada yg mau beli?” Percaya tidak percaya, jawabannya ADA. Di bursa saham apalagi. Saya banyak menjumpai perusahaan yg merugi tiga tahun berturut namun bisa masuk bursa (IPO), dan luarbiasanya harga sahamnya langsung melejit hingga ribuan persen. Bahkan yang terbaru ada Startup KIOSON, startup pertama yg melantai di BEI, harga sahamnya sudah naik 1000% (atau sepuluh kali lipat) dari harga perdananya, hanya dalam waktu kurang dari 3 minggu. Dan sekarang masih terus naik. Padahal sejak berdiri 2015 dia merugi setiap tahun.
Jangan tanyakan pada saya mengapa ada orang yang mau membeli perusahaan yg tiga tahun merugi. Silahkan anda lihat fenomena demam anturium, arwana, batu akik, dsb., maka anda akan tahu jawabannya: GREED. Walaupun tidak menutup kemungkinan perusahaan yg sekarang merugi akan mencetak profit beberapa tahun yang akan datang, sehingga inilah yang menarik minat investor untuk berinvestasi di perusahaan yg sedang merugi. Namun bukan berarti tidak ada orang yg beli perusahaan tsb karena dilandasi faktor GREED semata, bahkan jika para trader saham mau jujur maka mereka akan menjawab bahwa motivasi utama mereka melakukan trading saham adalah karena faktor tsb.
Kembali ke soal SUBSIDI
UBER sebagai perusahaan transportasi Online terbesar di dunia, pada paruh pertama 2016 menghabiskan $1,27 Miliar (setara Rp 16,51 Triliun) hanya untuk SUBSIDI. (http://www.hybridcars.com/uber-loses-1-27-billion-as-driver-subsidies-and-competition-take-their-toll/)
GOJEK selama periode Oktober 2015-Maret 2016 menghabiskan $72,6 Juta (atau Rp943,8 Miliar) untuk SUBSIDI. (https://www.techinasia.com/gojeks-numbers-leaked)
Angka diatas hanya untuk periode 6 bulan. Bayangkan berapa banyak yg mereka habiskan untuk subsidi selama berapa tahun mereka telah beroperasi. Dan keduanya sampai sekarang masih membukukan laporan keuangan negatif alias merugi. 
Sekarang mari kita pikirkan, mampukah perusahaan transportasi konvensional bersaing head to head dengan mereka jika mereka sendiri sanggup menanggung kerugian ratusan milyar hingga triliunan rupiah? Perusahaan transportasi konvensional mana yg siap menanggung kerugian sebesar itu demi mengalahkan transportasi online? 
Jadi jangan pakai dalih “sharing economy”, “disruptive innovation”, “Adapt or Die”, dan istilah2 “keren” lainnya. Karena bukan itu yg membuat GOJEK, UBER, GRAB mampu merebut pangsa pasar dari transportasi Konvensional. Mereka berhasil mencapai apa yg mereka capai sekarang semata2 karena mereka mampu bakar uang triliunan rupiah! TITIK. 
BOM WAKTU
Sopir transportasi konvensional, Sopir transportasi online, dan para penumpang/masyarakat, semuanya adalah KORBAN (atau akan menjadi korban) dari ledakan bom waktu model bisnis transportasi online yg demikian.
Mengapa saya katakan begitu?

Mari kita prediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang jika hal ini dibiarkan. 
Pertama, angkutan konvensional akan bangkrut. Banyak sopir yg kehilangan sumber nafkah beserta keluarganya yg kehilangan sumber makan. Bukan karena mereka tidak mampu bersaing secara alami, namun karena diluar sana ada pemodal berkantong super tebal yang sedang bakar-bakar uang.
Kedua, setelah angkutan konvensional berhasil disingkirkan, tinggallah transportasi online menguasai/memonopoli pasar. Saat itulah mereka mulai memikirkan how to make profit. Caranya? Cabut SUBSIDI. Tarif akan dinaikkan ke level yg menguntungkan bagi perusahaan. Dan karena tidak ada aturan yg membatasi berapa tarif maksimal yg bisa mereka tetapkan, maka suka2 mereka mau pasang tarif berapa. Bisa saja lebih mahal dari transportasi konvensional. Dampaknya… Masyarakat dirugikan. Mau naik transportasi konvensional tidak bisa karena sudah tidak ada atau minimal susah dicari karena sudah pada bangkrut. 
Bisa saja masyarakat menggunakan transportasi massal, tapi ini akan berdampak driver transportasi online kehilangan penumpang. Merekapun akhirnya dirugikan.
Jadi bagi anda yg sekarang merasa senang dengan keberadaan transportasi online bertarif murah itu, tunggulah masanya akan tiba dimana anda harus bayar mahal. Dan kepada driver online yg merasa pekerjaannya memberikan keamanan finansial, tunggulah waktunya ketika Subsidi anda dicabut. 
SOLUSINYA
Sebenarnya solusi ini sudah pernah ada. Dulu sempat ada, sekarang tidak ada lagi. Apa itu? Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 yang didalamnya diatur soal batas bawah dan batas atas tarif transportasi online. Sayangnya Permenhub ini diuji materil ke MA oleh (katanya) para driver transportasi online. Mereka menolak adanya pembatasan tarif bawah!! 
Bukankah ini aneh? Dimana2 pembatasan tarif bawah ditujukan untuk melindungi sopir agar tidak dibayar kemurahan oleh penumpangnya. Permenhub itu menetapkan tarif bawah Rp3500/km dan tarif atas Rp. 6000/km. Logikanya, para driver ini tidak ingin dibayar Rp. 3500, maunya mereka dibayar Rp 2500 atau bahkan Rp1.500. Aneh kan? Alasan penolakan mereka adalah penetapan batas bawah membuat mereka tidak bisa menetapkan harga yg lebih murah. Ini mereka katakan sendiri. (http://www.beritasatu.com/ekonomi/448528-ma-perintahkan-menhub-cabut-aturan-tarif-angkutan-online.html). 
Padahal, murahnya tarif online itu bukan karena cost yg murah, tapi karena SUBSIDI seperti yg telah diuraikan di atas. Makanya saya sendiri tidak yakin mereka itu menyuarakan aspirasi driver, tapi sepertinya mereka sedang menyuarakan aspirasi manajemen transportasi online yang ingin tetap merebut pangsa pasar transportasi dari perusahaan konvensional dengan cara bakar-bakar uang itu. 
Sayangnya, MA mengabulkan gugatan tersebut!. 
Saya yakin, di lapangan para driver yang sesungguhnya pasti akan lebih memilih dibayar Rp.3500 daripada Rp.2500. Selain ini sangat logis, ada bukti lainnya. Ketika beberapa waktu yg lalu manajemen Gojek memperbesar prosi bagi hasil utk perusahaan, banyak driver Gojek yg demo. Porsi mereka diperkecil aja mereka demo, maka tentu jika dikasih pilihan mau 3500 atau 2500, mereka pasti pilih yg pertama. 
Sayangnya sekarang Driver Gojek tidak bisa demo lagi. Sudah dilarang sama manajemen. Barangsiapa yg demo, langsung dipecat! Ini ada dalam peraturan Gojek mengenai pelanggaran yg berakibat manual suspend no. 29 (https://driver.go-jek.com/hc/id/articles/115000020907-Jenis-jenis-Pelanggaran-GO-JEK). 

Buruh aja masih boleh mogok kerja, dan itu dilindungi UU. Driver Gojek malah demo aja gak boleh. Seperti itukah “Karya Anak Bangsa”?

– satria mahendra –

Workflow Engine Comparison

I was looking at different options for workflow engines. I have some experience in Oozie, little experience in Luigi and no experience in Azkaban. In this post, I will try to give an overview of these engines in terms of their advantages and disadvantages. Take my word with a grain of salt(based on the experience I have with these tools), though.

Crons do not scale(Surprise!)

If you have a lot of processes which manipulate, transform and write data to database, you will sooner or later will face the limitations of the cron jobs. You want to be able to handle failures, debug processes and rerun the failed jobs. You want to have multiple scripts to run based on data availability, data dependency and time-based scheduling. You may want to also share the data workflow with many people where you cannot do any of the items with cron jobs.

What is sufficient?

  • Regular scheduling (depending on data availability and time-based)
  • Workflow of multiple jobs
  • You should be able to write workflows in the same way that you are writing programs
  • You should handle the errors and failures gracefully
  • Communication between cluster and client should be secure
  • Community support should be very good
  • Continuous integration(whenever you push to the master, it should adapt the changes(woohoo!))
  • Testing should be supported out of the box
  • Let’s cut to the chase; pretty much anything that you want to expect from a decent library or framework in terms of software quality and practices

Let’s write our own workflow engine

  • Resources are limited(time, effort, human resources)
  • Is your usage is too specific or could you make it work in one of the available tools?
  • No need to reinvent the wheel

What do we want from the workflow engines?

  • First and foremost: resilient to failures
  • Debugging is necessary and important advantage over cron jobs
  • If we have similar workflows, we should not write too much boilerplate code to make it all work
  • Support for databases, HDFS and common file formats
  • You should be able to write workflows in the same way that you are writing programs
  • You should handle the errors and failures gracefully
  • Communication between cluster and client should be secure
  • Community support should be very good
  • Continuous integration(whenever you push to the master, it should adapt the changes(woohoo!))
  • Testing should be supported out of the box
  • Default logging would be icing on the cake
  • Let’s cut to the chase; pretty much anything that you want to expect from a decent library or framework in terms of software quality and practices

Oozie

Advantages

  • Mature
  • Support from Hadoop community is strong
  • Documentation
  • Default support for Pig, ssh, java, filesystem
  • Coordinators: when data is available, do the computation. For recurring jobs, you do not need to explicitly configure the job flow.
  • Security
  • Built in authentication
  • It has own testing suite(Mini Oozie)

Disadvantages

  • XML(Verbose)
  • Control flow is somehow restrictive
  • Directed Acyclic Graph(Hard to rerun only a component after failure, perfectly goes along with Pig, though; Pig scripts also define DAG)
  • User Interface

Luigi

Advantages

  • Python!
  • Control flow is advanced as tasks are code
  • Dependencies between flows
  • Customization and code reuse through object-oriented programming

Disadvantages

  • Visualizer is not as good as Azkaban
  • No default support for Pig, Hive
  • No storage of history and generally persistent storage is lacking

Azkaban

Advantages

  • If you are using Voldemort, it supports out of the box
  • Visualizations for tasks (svg, interactive) is advanced
  • Authentication and Authorization
  • History of tasks(which are completed and which are not)
  • Plugins for Pig, Hive and many more
  • Web deployment

Disadvantages

  • Support is not as good as Oozie.
  • Scheduling is only time based. AFAIK, no data availability scheduling
  • Workflow is somehow limited and restrictive comparing to Luigi and even Oozie.

Source : http://bugra.github.io/work/notes/2014-04-13/workflow-engine-comparison-first-impressions/

TDS and Coffee

What is TDS?

To make a great cup of coffee you not only want the best coffee beans available but also the best water. One of the most important aspects to look at when rating the quality of water is the TDS. TDS stands for Total Dissolved Solids. A TDS measurement represents the total concentration of dissolved substances in the water, which can include minerals, salts, and other solids (1). The amount and type of solids that are dissolved in the water will affect its flavor. Because coffee is about 96 percent water, the TDS of water used in the brewing process will greatly affect the quality of the finished product.

TDS readings vary greatly between different kinds of water. Most distilled water has a TDS of 0 ppm (parts per million). During the distillation process steam is condensed from boiling water and the result is pure water with no dissolved solids. Spring water on the other hand has a relatively high TDS, which can range from 50 to 450 ppm (2). This is because the water picks up different minerals and salts on its journey through underground rock passages and cracks in the earth on its way to the spring. The result is water with a high level of dissolved solids. Tap water is somewhere in between these two. Ideal tap water ranges from 100-150 ppm while average tap water can range from 100-400 ppm (2). So what does this all have to do with coffee?

The TDS of water not only can affect the initial flavor of a cup of coffee but it can also affect the extraction process. The idea is that low TDS waters tend to over extract coffee. There are little to no solids dissolved in these waters so they have a greater ability to absorb coffee material from the ground beans. This will lead to a coffee that is bitter and dry. On the other hand, high TDS waters often have high mineral contents and tend to under extract coffee. These waters already have a high level of solids dissolved in them and will have less capacity to absorb coffee material from the coffee grounds. This may lead to a coffee that is sour or lacking sweetness. According to the Specialty Coffee Association of America (SCAA) the ideal TDS range for the water used to brew coffee is 75-250 ppm. The target TDS is 150 ppm (3). The target TDS of 150 ppm should lead to a properly extracted cup of coffee with balanced flavors and acidity.

TDSScale


After some test here are the conclusion

While the SCAA sets a target TDS range of 75-250 ppm and an ideal value of 150 ppm these are simply guidelines. It is important to note that while two waters may have the exact same TDS values they can have totally different flavor profiles. An extreme example would be if we dissolved 10 grams of salt into a liter of water and 10 grams of sugar into another liter of water. These waters might end up having the same TDS values but they would obviously taste completely different.The idea is that the TDS alone affects the extraction process. Low TDS waters tend to over extract coffee. There are little to no solids dissolved in these waters so they have a greater ability to absorb coffee material from the ground beans. This will lead to a coffee that is bitter and dry. On the other hand, high TDS waters often have high mineral contents and tend to under extract coffee. These waters already have a high level of solids dissolved in them and will have less capacity to absorb coffee material from the coffee grounds. This may lead to a coffee that is sour or lacking sweetness.

This being said, what exactly is dissolved in the water will definitely affect its flavor and the flavor of a cup of coffee brewed with that water. This is why we saw differences in coffee brewed with each type of water. Even thought the city waters were fairly close in TDS values (R-120, CH-125, D-132), they each presented different aromas and flavor profiles because of the different kinds of solids dissolved in each water.

We were very surprised at the differences in flavor between coffee made with water from Raleigh, Durham, and Chapel Hill. The coffees brewed with the bottled waters also presented a wide variety of flavors and aromas compared to each other. We would like to point out that we did use the exact same brewing methods for each water during our tasting at HQ Raleigh. We mention this because while this method may have brought out certain qualities in the Durham or Chapel Hill waters we could have easily tweaked some aspects of the brewing to dial in anyone of the waters. So in this way the TDS serves as a useful guideline that a barista or coffee connoisseur can use to help dial in their particular cup of coffee.

References

http://www.safewater.org/

http://www.tdsmeter.com/

http://www.scaa.org/

 source : https://www.raleighcoffeecompany.com

Panduan Seduh Vietnam Drip

Masyarakat Vietnam terkenal suka minum kopi tanpa mengenal waktu dan tempat. Persis seperti di Indonesia, kopi hitam pekat disajikan dengan gula atau susu kental manis untuk mengurangi rasa pahit.

Berikut panduan seduh kopi ala Vietnam, negara saingan utama Indonesia dalam hal ekspor kopi.

Alat dan Bahan

Vietnam Dripper
Penggiling kopi
Timbangan
Termometer
Sendok pengaduk
10 gram kopi
Susu kental manis sesuai selera
250 ml air panas

Langkah 1

Siapkan dripper, gelas saji, susu kental manis, dan sendok pengaduk.

Langkah 2

Timbang kopi sebanyak 10 gram. Disarankan untuk menimbang kopi lebih banyak 1-2 gram dari yang akan digunakan, karena seringkali berat kopi berkurang setelah digiling.

Jika menyukai kopi yang pekat, Anda bisa menggunakan sampai 12 gram kopi. Tapi jika menginginkan yang ringan, 8 gram kopi sudah mencukupi.

Langkah 3

Giling kopi. KopiDewa menggunakan Porlex dengan setelan 7-8 klik dari titik 0 untuk mendapatkan tingkat kehalusan pasir kasar. Sambil menggiling mulailah memanaskan air.

Dengan menggunakan Vietnam Dripper, waktu kontak air dan kopi berlangsung cukup lama. Gunakan gilingan kasar agar kopi tidak over-extracted karena kopi menetes lebih lama.

Langkah 4

Masukkan kopi yang sudah digiling ke dalam dripper, lalu ratakan dengan menepuk-nepuk dripper.

Langkah 5

Tekan kopi dengan tamper, tapi jangan terlalu padat. Tekanan yang terlalu kuat akan membuat hasil akhir terasa burnt karena kopi over-extracted.

Jika dripper Anda menggunakan baut sebagai pengunci tamper, jangan terlalu kencang memutar baut.

Langkah 6

Tuang air bersuhu 90°C sampai dripper hampir penuh. Lalu tunggu hingga kopi menetes perlahan.

Langkah 7

Proses seduh bisa terjadi selama 10 menit. Bila air menetes terlalu cepat, gunakan gilingan yang lebih halus atau tekan kopi lebih padat. Bila terlalu lama, lakukan sebaliknya.

Setelah selesai, gunakan tutup dripper sebagai alas agar tetesan kopi tidak mengotori meja.

Langkah 8

Di Vietnam kopi biasa disajikan dengan gorengan, sama seperti di Indonesia.

Dari : http://kopidewa.com

Panduan Seduh Kalita Drip

Kalita Drip adalah salah satu penyeduh pour over pertama di dunia. Diciptakan tahun 1959, dengan desain yang sebenarnya “mencontek” dripper Melitta, namun disempurnakan dengan hadirnya 3 lubang untuk menghasilkan ekstraksi kopi yang lebih merata.

Penyeduh ini mempunyai tingkat toleransi kesalahan yang tinggi sehingga cocok untuk yang baru mempelajari teknik pour over. Berikut panduannya.

Alat dan Bahan

Kalita Drip ukuran 1-2 cup
Filter trapesium Kalita
Penggiling kopi
Timbangan
Termometer
Teko leher angsa
Stopwatch
25 gram kopi
350 ml air panas

Langkah 1

Lipat filter bagian bawah ke depan dan bagian samping ke belakang.
Letakkan filter yang sudah dilipat ke dalam dripper.

Langkah 2

Timbang kopi sebanyak 25-27 gram. Disarankan untuk menimbang kopi lebih banyak 1-2 gram dari yang akan digunakan, karena seringkali berat kopi berkurang setelah digiling.

Penyeduh pour over apa pun bekerja di titik optimal saat volume kopi mencapai setengah sampai duapertiga kapasitas maksimalnya. Jika kopi terlalu sedikit penyeduhan akan cenderung under-extracted karena kurangnya tekanan. Jika kopi terlalu banyak, air akan mudah meluap saat proses seduh.

Langkah 3

Giling kopi. KopiDewa menggunakan Porlex dengan setelan 7-8 klik dari titik 0 untuk mendapatkan konsistensi seperti pasir kasar. Sambil menggiling mulailah memanaskan air.

Alas Kalita Drip yang rata cenderung mengendapkan air lebih lama. Hal ini dapat diimbangi dengan tingkat gilingan kopi yang agak kasar agar hasil akhir tidak over-extracted.

Langkah 4

Bilas filter dengan air panas untuk menghilangkan bau dan aroma kertas. Pembilasan juga membantu menghangatkan dripper sehingga proses seduh lebih maksimal.

Masukkan kopi yang sudah digiling sebanyak 25 gram ke dalam filter dan dripper yang sudah dibilas. Timbang ulang untuk memastikan beratnya sudah tepat. Ratakan gundukan kopi dengan menepuk-nepuk dripper.

Langkah 5

Nyalakan stopwatch dan kucurkan air bersuhu 85°C sebanyak 50 ml secara perlahan dan merata ke gundukan kopi lalu tunggu 45 detik agar proses blooming terjadi. Usahakan agar tetesan air tidak langsung terkena dinding filter.

Langkah 6

Setelah blooming 45 detik, kucurkan air secara perlahan dengan dengan gerakan melingkar dari dalam ke luar seperti obat nyamuk. Kucurkan air sebanyak 30 ml dan tunggu sampai permukaan air telah turun sebelum mengucurkan 30 ml berikutnya.

Kucurkan air di gundukan yang terlihat gelap dan kering agar proses ektraksi merata.

Langkah 7

Tuang air sampai 250ml dan usahakan untuk menyelesaikan penyeduhan dalam 3-4 menit.

Desain flat bottom dan 3 lubang Kalita Drip membuat alat ini mempunyai toleransi tinggi terhadap kesalahan. Cocok bagi mereka yang baru mempelajari teknik pour over.

Langkah 8

Kopi Anda telah selesai diseduh. Segera singkirkan filter dan ampas kopi lalu bilas dripper dengan sisa air panas. Hal ini bertujuan agar dripper tidak berwarna keruh karena minyak kopi yang menempel.

Langkah 9

Sajikan dengan gelas kecil agar aroma dan rasa lebih terjaga.

Dari : http://kopidewa.com

Barokah

 **
Al Kisah.., pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah semangka tersebut terasa hambar.

.

Dan sang isteri pun marah.
Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai di dengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus: 
“Kepada siapakah kau marah wahai istriku?

Kepada pedagang buahnya kah? atau kepada pembelinya? atau kepada petani yang menanamnya?

ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?”

Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq

Istri beliau terdiam.

Sembari tersenyum., Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:

“Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik…

Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula..!

Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik..!

*Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu..!”*

Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya…

Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya :

“Bertaqwalah wahai istriku…Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya. Agar Allah memberikan keberkahan pada kita”

Mendengar nasehat suaminya itu… Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridho dengan apa yang telah Allah Subhanallohu Wa Ta’ala tetapkan.”

Pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa 

*Setiap keluhan yg terucap sama saja kita tidak ridho dengan ketetapan Allah SWT, sehingga barokah Allah jauh dari kita.*

Karena Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi 

*barokah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.*

Barokah itu: 

*”… bertambahnya ketaatanmu kepada Alloh SWT.*

*Makanan barokah* itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.
*Hidup yang barokah* bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada Allah SWT.
*Barokah itu tak selalu panjang umur,* ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab bin Umair.

*Tanah yang barokah* itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah…tiada banding….tiada tara.

*Ilmu yang barokah* itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barokah ialah ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama Allah.

*Penghasilan barokah* juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

*Anak² yang barokah* bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan yang hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Robb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita & tak henti²nya mendo’akan kedua Orangtuanya.

Semoga kita semua selalu dianugrahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur padaNYA, agar kita me ndapatkan keberkahan Nya.

Aamiin..