Move-On dari Era “Disruption, Menyongsong Era “Abundance”

Ini Tulisan: Ahmad Faiz Zainuddin (Mahasiswa MBA Warwick Business School UK, dan Alumni Singularity Univ, Silicon Valley, Ca)

“A good Golfer plays where the ball is, but A great Golfer plays where the ball going to be”

(Earl Wood)

Kalimat di atas adalah nasehat Earl Wood pada anaknya, Tiger Wood yang di kemudian hari atas bimbingan sang ayah, ia menjadi pemain Golf legendaris

Karena di Indonesia permainan Golf lebih populer dibanding hockey, ijinkan saya menerjemahkan dalam dunia PERMAINAN GOLF:

“Kalau anda ingin jadi pemain Golf yang baik, cukup arahkan pandangan mata kearah bolanya. Tapi kalau anda ingin jadi pemain Golf hebat, arahkan mata dan seluruh kemampuan permainan anda ke arah dimana bola akan menuju”.

Era “disruption” adalah dimana bolanya sekarang.
Era “abundance” adalah kemana bolanya akan menuju.

Kalau anda masih juga membahas wacana dan menghabiskan waktu anda bicara era disruption, anda akan jadi pemain yang baik. Tapi kalau anda menginginkan jadi pemain yang sukses besar (hebat), anda harus arahkan energi pikiran dan ikhtiar anda untuk menyongsong era abundance.

Biar jelas, kita bahas dulu, apa yang dimaksud dengan era disruption (penghancuran) vs era abundance (keberlimpahan).

Ini berawal dari thesis Ray Kurzweil, Co-Founder Singularity University. Di tahun 1999 beliau menulis buku “The Age of Spiritual Machines” dan mengeluarkan thesis tentang “The Law of Accelerating Return”.

Menurut penelitian beliau, Law of Moore tidak hanya berlaku dalam 50 tahun terakhir, tapi polanya telah hadir sejak 120 tahun terakhir, di mana teknologi bergerak secara eksponensial. Artinya, kecepatan prosesor komputer, daya tampung hard disk, dan segala hal yang disentuh keajaiban teknologi informasi, berlipat dua setiap 18 bulan, atau jadi lebih murah setengahnya.

Maka itu sebabnya, gabungan teknologi yang ada di HP anda sekarang ini, harganya 1/10.000 dari 25 tahun lalu, dimana saat itu total harganya sekitar 1 juta dolar = Rp. 14 Milyar (karena di situ ada GPS, gyroscope, mesin fax, video recorder, radio, TV, kamera foto, ensiklopedi, kamus, telepon, scannner. dll).

Co-founder Singularity University yang satunya, Peter Diamandis, membuktikan bahwa KEMAJUAN TEKNOLOGI secara eksponensial ini melalui 6 tahapan, yang beliau sebut dengan “6D of Exponential Growth”, yaitu:

1. Digitalization (Transformasi dari analog menuju digital di hampir semua sektor)

2. Deception (Banyak orang terlena karena awalnya kelihatan pelan dan cuman riak-riak kecil, sampai pertumbuhan eksponensialnya menyentuh “knee of the curve” alias “titik lejit”)

3. Disruption (Titik lejit menjadi reaksi atom yang mengguncang kemapanan. Ini yang sedang kita ributkan sekarang dan bikin banyak orang dan perusahaan panik. Tapi ini hanya fase transisi menuju 3D terakhir)

4. Dematerialization (semua produk kehilangan wadah fisik untuk ditransfer di “Cloud” alias awan digital tak bertepi.

5. Demonetization (Di dalam “awan digital” tempat menyimpan segala hal itu hampir semua biaya jadi turun drastis. Buku, musik, film, ilmu, informasi, komunikasi, dll tiba-tiba jadi membludak volumenya, dan makin lama makin murah harganya)

6. Democratization (Pada puncaknya, karena semua serba berkelimpahan dan berbiaya minimal sekali, maka terjadilah era “Abundance” atau disebut “Free Economy” dan “Sharing Economy”.

Sebenarnya saat ini anda sudah bisa merasakan yg disebut sbg Free Economy ini:

  • Kirim surat gratis (email)
  • Telpon interlokal gratis (WA call)
  • Sekolah gratis (khannacademy)
  • Kuliah gratis (coursera)
  • Buku gratis (pdfdrive.net)
  • Film dan musik gratis (youtube)
  • Rekaman ceramah, seminar dan training gratis (youtube)
  • Disain gratis (canva)
  • Main game gratis (online)
  • Kumpul-kumpul ngobrol bareng 50 orang dari segala penjuru dunia gratis (zoom)
  • Penginapan gratis (couchsurging)
  • dll.

Dan keGratisan (atau minimal harga murah sekali sehingga terjangkau untuk semua orang) ini makin lama akan makin masif, karena akan menular ke segala bidang yang lain, terutama energy, air, makanan, barang-barang, transportasi dan kesehatan. Anda bisa membaca di bukunya Peter Diamandis: “Abundance: The Future is Better than You Think” tentang ulasan ilmiah bagaimana ini semua sedang terjadi sekarang, dan akan berjalan lebih massif lagi.

Diperkirakan Free Economy akan hampir meliputi segala hal saat terjadi yang disebut era “Singularity”, yaitu saat kecepatan processing komputer seharga 1000 dolar Amerika sudah menyamai kemampuan prosessing otak manusia (10 terabyte/second). Ray Kurzweil, genius visioner MIT yang sejauh ini dari 150-an prediksi ilmiahnya terbukti 126 diantaranya benar-benar terjadi ontime atau bahkan lebih dulu dari prediksinya, memprediksikan era Abundance (Singularity) ini momentum besarnya terjadi di sekitar tahun 2035-2040.

Bahkan kalaupun perusahaan dan pekerjaan anda saat ini sedang, atau akan tergulung habis oleh para disruptor, mestinya anda tidak perlu pesimis, takut atau marah. Mestinya anda bahagia karena revolusi teknologi ini insya Allah akan berakhir indah. Dan pekerjaan anda yang hilang itu cuman sebuah pertanda bahwa anda harus segera punya keahlian baru, kreativitas baru dan pekerjaan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Era disrupsi yang penuh gejolak ini adalah era transisi yang harus diterima dengan semangat dan optimisme, sebelum kita masuk era abundance.

Nah pertanyaan paling pentingnya sekarang:

1. Peluang apa aja yang akan hadir di era Abundance?

Kemampuan menangkap peluang ini akan menentukan anda akan menjadi The Have atau Super Have (tenaaang saja, masa yg akan dtg tidak akan ada yg jadi “The Have Not” yg kelaparan atau kurang sandang, pangan, papan).

2. Apa saja yang perlu anda persiapkan untuk menangkap peluang-peluang dahsyat ini?.

Siapkan diri, keluarga dan perusahaan anda saat era itu belum datang. Jangan baru siap-siap saat dia sudah datang (seperti kasus demam “era disruption” saat ini).
Belajarlah berenang sebelum banjirnya datang.

3. Apa saja efek samping yang akan terjadi, dan bagaimana kita mengatasinya bersama-sama?

Tentu saja seperti segala hal baik yang lain, kita tidak boleh tutup mata bahwa akan ada efek samping yang perlu kita antisipasi. Tapi tidak perlu khawatir berlebihan, umat manusia selalu berhasil mengatasi tantangan zamannya masing-masing.

 

~~

Advertisements

Adenium Thaisoco

Seorang pekerja Thailand di Arab Saudi membawa cutting (potongan) arabicum ke rumahnya di Ban Na, provinsi Nakornnayok.  Potongan tersebut ditanam dan berkembang dan mengalami perubahan karakteristik, yang akhirnya dikenal dengan ‘Pet Ban Na’. Dari indukan tersebut kemudian dikembangkan dengan metode penyilangan dan culture jaringan sehingga menghasilkan jenis yang stabil.

Diwaktu lain orang yang membawa jenis yang sama tersebut ke rumahnya di Nong Haen, provinsi Cha Choeng Sao. Disana dikembangkan dengan baik dan disebut ‘Yak Nong Haen’ (Dam Sirichok).  Kemudian, tanaman tersebut dibawa ke “Bang Khla”, provinsi Cha Choeng Sao, dan dikembangkan disana,  kemudian disebut ‘Bang Khla’

Dari hasil perbanyakan tersebut kemudian dipilih tanaman terbaik dan dikembangkan sehingga menghasilkan tanaman terbaik yang disebut dengan Siam Crown.

Dengan tingkat perkecambahan alami sangat rendah dan stabilitas yang tinggi benih ‘, Thai Socotranum adalah jenis paling langka di dunia.  Harga benih, bibit dan item lainnya dari jenis ini lebih mahal daripada keturunan lainnya.  Namun, saat ini, ada tangan teknik penyerbukan silang yang menghasilkan lebih banyak biji-bijian dan ternyata Thai Socotranum menjadi tanaman yang cukup popular.

Beberapa jenis adenium terbaik Thailand dari hasil proses penyerbukan silang:

  1. Siam Crown adalah Adenium  yang diimpor dari Arab Saudi untuk Thailand sejak lama. Kemudian dikembangkan dan disilangkan sehingga menghasilkan karakter yang beragam seperti saat ini.

Secara umum karakteristik dari Siam Crown adalah:

  • Batang tunggal dari caudex besar. (cendrung mirip botol)
  • Bercabang keluar di ujung seperti mahkota
  • Cabang Agak pendek dengan sering mirip dengan Bonsai.
  • Kulit batang terkesan berminyak dan cabang putih, kulit tampak seperti kulit gajah yang semakin tua.
  • Daun Glossy halus, menyebar, bentuk daun panjang dan meruncing,  daun berwarna hijau muda dan perak daun, pada daun tidak terdapat bulu halus seperti layaknya arabicum
  • Bunga berwarna merah muda pucat, tepi luar kelopak memiliki warna yang lebih pekat, tabung serbuk sari lebih panjang dari kelopak, bunga mekar di ujung cabang atau   pada cabang, mengugurkan daun saat bunga mekar, bunga sangat produktif  dan  tahan , bisa mekar 2 kali dalam setahun dan dalam priode 2-3 bulan lamanya.
  • Bunga terlihat mengkilat jika terkena cahaya matahari
  1. Kao-Hin-Zon (KHZ)

Indukannya berasal dari kecamatan Khao Hin Son, provinsi Cha Choeng Sao yang merupakan jenis arabicum yang sama dengan siam crown yang dikembangkan disana. Hasil dari perbanyakan dan pemuliaan tersebut menghasilkan varian baru .

Secara umum karakteristik dari Kao-Hin-Zon (KHZ) adalah:

  •      Batang tumbuh melebar, kokoh, dan kuat dan cabangnya cendrung menyebar seperti tanaman bonsai.
  • Akar menyebar dan kokoh
  •     Daun mengkilat, warna daun hijau muda, daun agak melipat keatas, ujung daun meruncing, pada daun tidak terdapat bulu halus seperti layaknya arabicum
  •     Ukuran seedpot sedang, dengan seed besar
  • Tanaman memiliki stabilitas tinggi dan menunjukkan karakteristik yang baik
  1. Bang-Khla (BK)

Indukannya diimpor ke Kecamatan Nong Haen, Provinsi Cha Choeng Sao, disebut ‘Yak Nong Haen’ disebut oleh pemilik sebagai ‘Dam Sirichok’.  Kemudian, itu dipindahkan ke Bang Khla kabupaten, provinsi Cha Choeng Sao, disebut ‘Yak Bang Khla’

Secara umum karakteristik dari Bang-Khla (BK) adalah:

  • Batang tumbuh seperti sebuah tiang, cabang yang besar dan kuat.
  • Akar yang membesar
  • Daun mengkilat, berwarna hijau muda dan ujung daun meruncing dan tidak berbulu pada kedua sisi daun
  • Seedpot berukuran sedang dengan ukuran seed yang besar
  • Tanaman yang tumbuh dari benih menunjukkan berbagai karakter tapi  karakteristiknya menarik dan bagus
  1. S1

Indukan S1 berasal dari seed yang diimpor dari yaman dan tumbuh di Thailand

Secara umum karakteristik dari S1  adalah:

  • Bentuk Batang cendrung bulat dan coudex terasa halus jika disentuh.
  • Daun mengkilat, bentuk daun bulat besar dan tulang daun berwarna merah semu.
  • Percabangan mengarah keluar, cabangnya cenderung tidak panjang dan membentuk segitiga , berwarna cream cerah.
  • Tingkat perkecambahan rendah alami, polong dan biji besar.
  • ukuran bunga sekitar 3-4 cm dengan warna merah muda gelap dan putih dibagian tengahnya
  1. Petch Krung Kao (PKK)

Indukan berasal dari Pet Ban Na, merupakan turunan selanjutnya dari induknya. Namun berukuran kerdil. Jenis ini lebih rajin berbunga dan menghasilkan seedpot dibandingkan indukannya (Pet Ban Na)

Secara umum karakteristik dari Petch Krung Kao adalah:

  • Secara umum karakternya hampir mirip dengan PBN tapi kulitnya lebih berkerut dari indukan sebelumnya.
  • Ukuran bunga cendrung lebih kecil, sekitar 3-4 cm
  • Berbunga kompak.
  • Sulit menghasilkan seedpot
  1. Varietas Thaisoco baru

Varietas terbaru ini merupakan turunan selanjutnya dari indukan yang sebelumnya dengan mengawin silangkan dua jenis indukan yang berbeda diantaranya (penamaan diambil dari nursery yang mengembangkan):

  • Thung Ngon merupakan silangan antara Khao Hin Son dan S1
  • Rachinee Hinson merupakan silangan Antara Khao Hin Son dan RCN
  • Cha Da Thong adalah keturunan Pet Chada
  • Ra Kang Petis merupakan keturunan S1

Pada prinsipnya hanya ada 3 kelompok hulu Thaisoco:

  1. Pet Ban Na dan Mongkut Siam, keduanya berasal dari nenek moyang indukan yang sama, memiliki kestabilan yang sangat tinggi sehingga tanaman yang tumbuh dari benih akan mengikuti sifat dari indukannya. Dan hingga saat ini belum pernah berganti nama.
  2. Bang Khla dan Khao Hin, keduanya berkembang dari nenek moyang yang sama, memiliki kestabilan yang sangat tinggi tetapi Bang Khla memiliki karakteristik yang beragam, karena itu, Thaisoco Bang Khla tumbuh dari benih sudah mendapat seperti banyak nama sebagai Mongkut Thong, Mongkut Pet, Pet Chada, Pet Phranakorn, Pet Kanchana, Pet Sothorn, dll
  3. S1 diyakini keturunan Bang Khla karena ketika tumbuh benih Bang Khla, biasanya mendapatkan S1.  Namun, ada cerita lain dari S1 mengatakan bahwa itu diimpor.  S1 tumbuh dari benih menunjukkan karakteristik yang beragam sehingga mereka telah dinobatkan sebagai Rakang Thong, Pet Rakang dan lain-lain

Jadi setiap Thaisoco baru biasanya berasal dari indukan yang sama dan terkadang dengan perbedaan yang sedikit saja akan menimbulkan nama baru, sepertinya ini strategi dagang yang diterapkan oleh petani adenium Thailand untuk menjaga agar tingkat permintaan akan adenium Thaisoco tetap tinggi. Dan semua kembali ke kita untuk memaknainya,..

 

Sumber :
http://belajaradenium.blogspot.co.id/2013/12/adenium-thaisoco-sebuah-cerita-tentang_26.html

Meyer-Optik Gorlitz Trioplan 50 mm f/ 2.9 V Lens specification

Format: 35mm SLR
Type: Prime lens
Focusing: Manual Focus (MF)
Lens mounts: M42, Exakta, Altix bayonet mount
Optical design: 3 elements in 3 groups, triplet

Specifications:

Additional information:
The Meyer-Optik Görlitz Trioplan 50 mm f/ 2.9 V  is a standard prime lens for 35 mm  SLR cameras with the M42 screw mount.

Source : http://allphotolenses.com/lenses/item/c_1294.html

Installing R, Java without root privileges

I needed R, Java and rJava to be installed on remote computer, but I did not have root privileges (what a pity). The installation of R in local directory is very easy and described elsewhere (http://unix.stackexchange.com/questions/149451/install-r-in-my-own-directory). rJava installation is a bit tricky, but still possible.
During installation, rJava throws a lot of errors (the most common is “Unable to compile a JNI program”). To solve this, I was to accurately modify Java environment variables.
But, from the very beginning.

  1. Install R (R-3.1.1 in my case)
  2. Download Oracle 1.7.0u71 JDK from here (http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/jdk7-downloads-1880260.html).
  3. Unpack it to /home/user/local/lib.
  4. To install rJava correctly without errors, specify all necessary environment variables in .bashrc. Add these lines to the bottom of .bashrc:
    # java related variables
    export JAVA_HOME="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/"
    export JAVA_JRE="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/bin"
    export PATH="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/bin:$PATH"
    export PATH="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/bin:$PATH"
    export JAVA_CPPFLAGS="-I$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/include -I$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/include/linux"
    export JAVA="$JAVA_HOME/bin/java"
    export JAVA_LIBS="-L$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/lib/amd64/server -ljvm"
    export LD_LIBRARY_PATH=$JAVA_HOME/jre/lib/amd64:$JAVA_HOME/jre/lib/amd64/server
  5. Source .bashrc file in console: source .bashrc
  6. Run R CMD javareconf -e in console to ensure that all is correct.

After this installation of rJava should be successful.

 

source : https://yetanotherbiochemblog.wordpress.com/2014/11/07/install-rjava-for-local-java-installation/

Sisi lain transportasi online

 Sebenarnya saya sudah agak malas menulis soal transportasi online. Karena sebelumnya saya mengira pemerintah/otoritas terkait tidak paham wujud asli dari startup2 transportasi online (dan juga e-commerce) yg sejatinya mirip2 skema ponzi (menggunakan uang investor kedua untuk membayar keuntungan investor pertama, lalu menggunakan uang investor ketiga untuk membayar keuntungan investor kedua, dst. Detailnya pernah saya tulis satu setengah tahun yg lalu disini: https://www.facebook.com/satria.mahendra/posts/10153669779028172) Tapi ternyata pemerintah tahu nature bisnis aslinya memang seperti itu. Sayangnya pemerintah malah mendukung dengan alasan mengembangkan ekonomi kreatif, inovasi teknologi, dsb. (https://kominfo.go.id/content/detail/10849/pemerintah-optimistis-ada-5-unicorn-di-2019/0/sorotan_media). 
Pemerintah dalam hal ini Kemkominfo tahu soal strategi exit melalui bursa saham, bahkan mendukung strategi exit tsb. Pemerintah bahkan mempermudah persyaratan startup untuk melantai di bursa. Jika perusahaan lain umumnya harus menyerahkan laporan keuangan 3 tahun terakhir, untuk startup hanya 1 tahun terakhir. Inilah yg bikin saya mulai malas membahas soal startup model begini. Karena Pemerintah yg saya harapkan dapat menjinakkan bom waktu yg suatu saat akan meledak ini, malah membiarkan bahkan merawat bom itu. 
Namun berhubung di beberapa daerah (Jabar, Banyumas, Magelang, Batam, Yogya, Solo, Garut, Pekanbaru, Makassar, Medan, dan Tasikmalaya) Pemdanya justru melarang keberadaan transportasi online, membuat saya sedikit bersemangat untuk kembali menulis soal ini. Karena saya melihat, solusi yg diberikan oleh Pemda berupa pelarangan kurang tepat juga. Karena permasalahan sebenarnya dari transportasi online itu bukan pada keberadaannya, ataupun pada teknologi yg dipakai. Sekarang kan terkesan Pemda2 itu anti kemajuan teknologi, dianggap mundur kebelakang pemikirannya, padahal zaman makin maju. Kemajuan teknologi tidak mungkin dapat dibendung. Kitalah yg harus beradaptasi jika tidak mau digilas. 
Mengatakan pemda2 tsb sebagai kolot, terbelakang, anti kemajuan teknologi dsb, hanya karena melarang keberadaan transportasi online sangatlah tidak tepat. Karena di beberapa negara maju pun terjadi pelarangan transportasi online seperti di beberapa kota di AS dan Kanada, Bulgaria, Denmark, Hungaria, Italia, Perancis, Spanyol, Belanda, Taiwan, Northern Territory – Australia, London-UK, dll (https://www.cntraveler.com/story/where-uber-is-banned-around-the-world; http://www.news.com.au/finance/business/uber-blocked-from-operating-in-london-after-company-deemed-not-fit-and-proper/news-story/6dd3b48128316372a016379ad0437bf1)
Apakah mereka akan kita sebut kolot juga? Tentu tidak. Bahkan negara2 tersebut jauh lebih maju daripada kita. Lalu mengapa mereka melarangnya? Karena memang ada permasalahan mendasar yg membuat keberadaan transportasi online tersebut menyulut konflik horizontal dengan transportasi konvensional. 
Permasalahan tersebut terletak bukan pada teknologinya namun pada SUBSIDI yang dijadikan strategi perusahaan transportasi online untuk merebut pangsa pasar transportasi konvensional. 
SUBSIDI TARIF
Mungkin banyak orang yang tidak tahu mengapa tarif transportasi online bisa sangat murah dibandingkan transportasi konvensional. Ada juga sebagian yang berpendapat karena sharing economy yg membuat cost dapat ditekan sehingga harga menjadi murah. Namun faktanya bukan sharing economy yg membuat tarif mereka murah, melainkan SUBSIDI DRIVER (atau Subsidi Penumpang, tergantung sudut pandangnya).
Sebagai ilustrasi, jika anda membayar Rp.2500/km bukan berarti sejumlah itu pula yg didapat oleh driver. Driver sebenarnya mendapatkan Rp.4000/km (diluar bonus). Rp.2500 dari uang anda, Rp.1500nya dikreditkan oleh perusahaan ke rekening Driver. Inilah yg disebut SUBSIDI.
SUBSIDI inilah yg sebenarnya menggerakkan roda perusahaan transportasi online. Tanpa Subsidi, tarif mereka tidak akan murah karena driver pasti tidak mau dibayar murah. Sebaliknya jika tarif mahal, maka penumpang akan sepi. 
Jadi SUBSIDI inilah yg sebenarnya menjadi biang masalah antara Transportasi Online dan Konvensional yg tidak mungkin memberikan subsidi karena itu sama artinya perusahaan merugi. Sedangkan perusahaan Transportasi Online, meskipun merugi, tapi mereka tidak ambil pusing selama suntikan modal dari venture capital/investor terus mengalir. Inilah yg disebut dengan Bakar-Bakar Uang. Istilah ini bukan karangan saya, tapi memang istilah resmi yg dipakai, bahkan salah satu parameter keberhasilan startup dimata investor adalah tingginya BURNING RATE. 
Mungkin ada yg bertanya, darimana perusahaan transportasi online dapat untung jika mereka hanya bakar2 uang? Sebagaimana startup lainnya mereka akan mendapat untung setelah menjual perusahaannya kepada perusahaan lain (akuisisi) atau menjual sahamnya di bursa. “Tapi kan itu perusahaan merugi, emang ada yg mau beli?” Percaya tidak percaya, jawabannya ADA. Di bursa saham apalagi. Saya banyak menjumpai perusahaan yg merugi tiga tahun berturut namun bisa masuk bursa (IPO), dan luarbiasanya harga sahamnya langsung melejit hingga ribuan persen. Bahkan yang terbaru ada Startup KIOSON, startup pertama yg melantai di BEI, harga sahamnya sudah naik 1000% (atau sepuluh kali lipat) dari harga perdananya, hanya dalam waktu kurang dari 3 minggu. Dan sekarang masih terus naik. Padahal sejak berdiri 2015 dia merugi setiap tahun.
Jangan tanyakan pada saya mengapa ada orang yang mau membeli perusahaan yg tiga tahun merugi. Silahkan anda lihat fenomena demam anturium, arwana, batu akik, dsb., maka anda akan tahu jawabannya: GREED. Walaupun tidak menutup kemungkinan perusahaan yg sekarang merugi akan mencetak profit beberapa tahun yang akan datang, sehingga inilah yang menarik minat investor untuk berinvestasi di perusahaan yg sedang merugi. Namun bukan berarti tidak ada orang yg beli perusahaan tsb karena dilandasi faktor GREED semata, bahkan jika para trader saham mau jujur maka mereka akan menjawab bahwa motivasi utama mereka melakukan trading saham adalah karena faktor tsb.
Kembali ke soal SUBSIDI
UBER sebagai perusahaan transportasi Online terbesar di dunia, pada paruh pertama 2016 menghabiskan $1,27 Miliar (setara Rp 16,51 Triliun) hanya untuk SUBSIDI. (http://www.hybridcars.com/uber-loses-1-27-billion-as-driver-subsidies-and-competition-take-their-toll/)
GOJEK selama periode Oktober 2015-Maret 2016 menghabiskan $72,6 Juta (atau Rp943,8 Miliar) untuk SUBSIDI. (https://www.techinasia.com/gojeks-numbers-leaked)
Angka diatas hanya untuk periode 6 bulan. Bayangkan berapa banyak yg mereka habiskan untuk subsidi selama berapa tahun mereka telah beroperasi. Dan keduanya sampai sekarang masih membukukan laporan keuangan negatif alias merugi. 
Sekarang mari kita pikirkan, mampukah perusahaan transportasi konvensional bersaing head to head dengan mereka jika mereka sendiri sanggup menanggung kerugian ratusan milyar hingga triliunan rupiah? Perusahaan transportasi konvensional mana yg siap menanggung kerugian sebesar itu demi mengalahkan transportasi online? 
Jadi jangan pakai dalih “sharing economy”, “disruptive innovation”, “Adapt or Die”, dan istilah2 “keren” lainnya. Karena bukan itu yg membuat GOJEK, UBER, GRAB mampu merebut pangsa pasar dari transportasi Konvensional. Mereka berhasil mencapai apa yg mereka capai sekarang semata2 karena mereka mampu bakar uang triliunan rupiah! TITIK. 
BOM WAKTU
Sopir transportasi konvensional, Sopir transportasi online, dan para penumpang/masyarakat, semuanya adalah KORBAN (atau akan menjadi korban) dari ledakan bom waktu model bisnis transportasi online yg demikian.
Mengapa saya katakan begitu?

Mari kita prediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang jika hal ini dibiarkan. 
Pertama, angkutan konvensional akan bangkrut. Banyak sopir yg kehilangan sumber nafkah beserta keluarganya yg kehilangan sumber makan. Bukan karena mereka tidak mampu bersaing secara alami, namun karena diluar sana ada pemodal berkantong super tebal yang sedang bakar-bakar uang.
Kedua, setelah angkutan konvensional berhasil disingkirkan, tinggallah transportasi online menguasai/memonopoli pasar. Saat itulah mereka mulai memikirkan how to make profit. Caranya? Cabut SUBSIDI. Tarif akan dinaikkan ke level yg menguntungkan bagi perusahaan. Dan karena tidak ada aturan yg membatasi berapa tarif maksimal yg bisa mereka tetapkan, maka suka2 mereka mau pasang tarif berapa. Bisa saja lebih mahal dari transportasi konvensional. Dampaknya… Masyarakat dirugikan. Mau naik transportasi konvensional tidak bisa karena sudah tidak ada atau minimal susah dicari karena sudah pada bangkrut. 
Bisa saja masyarakat menggunakan transportasi massal, tapi ini akan berdampak driver transportasi online kehilangan penumpang. Merekapun akhirnya dirugikan.
Jadi bagi anda yg sekarang merasa senang dengan keberadaan transportasi online bertarif murah itu, tunggulah masanya akan tiba dimana anda harus bayar mahal. Dan kepada driver online yg merasa pekerjaannya memberikan keamanan finansial, tunggulah waktunya ketika Subsidi anda dicabut. 
SOLUSINYA
Sebenarnya solusi ini sudah pernah ada. Dulu sempat ada, sekarang tidak ada lagi. Apa itu? Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 yang didalamnya diatur soal batas bawah dan batas atas tarif transportasi online. Sayangnya Permenhub ini diuji materil ke MA oleh (katanya) para driver transportasi online. Mereka menolak adanya pembatasan tarif bawah!! 
Bukankah ini aneh? Dimana2 pembatasan tarif bawah ditujukan untuk melindungi sopir agar tidak dibayar kemurahan oleh penumpangnya. Permenhub itu menetapkan tarif bawah Rp3500/km dan tarif atas Rp. 6000/km. Logikanya, para driver ini tidak ingin dibayar Rp. 3500, maunya mereka dibayar Rp 2500 atau bahkan Rp1.500. Aneh kan? Alasan penolakan mereka adalah penetapan batas bawah membuat mereka tidak bisa menetapkan harga yg lebih murah. Ini mereka katakan sendiri. (http://www.beritasatu.com/ekonomi/448528-ma-perintahkan-menhub-cabut-aturan-tarif-angkutan-online.html). 
Padahal, murahnya tarif online itu bukan karena cost yg murah, tapi karena SUBSIDI seperti yg telah diuraikan di atas. Makanya saya sendiri tidak yakin mereka itu menyuarakan aspirasi driver, tapi sepertinya mereka sedang menyuarakan aspirasi manajemen transportasi online yang ingin tetap merebut pangsa pasar transportasi dari perusahaan konvensional dengan cara bakar-bakar uang itu. 
Sayangnya, MA mengabulkan gugatan tersebut!. 
Saya yakin, di lapangan para driver yang sesungguhnya pasti akan lebih memilih dibayar Rp.3500 daripada Rp.2500. Selain ini sangat logis, ada bukti lainnya. Ketika beberapa waktu yg lalu manajemen Gojek memperbesar prosi bagi hasil utk perusahaan, banyak driver Gojek yg demo. Porsi mereka diperkecil aja mereka demo, maka tentu jika dikasih pilihan mau 3500 atau 2500, mereka pasti pilih yg pertama. 
Sayangnya sekarang Driver Gojek tidak bisa demo lagi. Sudah dilarang sama manajemen. Barangsiapa yg demo, langsung dipecat! Ini ada dalam peraturan Gojek mengenai pelanggaran yg berakibat manual suspend no. 29 (https://driver.go-jek.com/hc/id/articles/115000020907-Jenis-jenis-Pelanggaran-GO-JEK). 

Buruh aja masih boleh mogok kerja, dan itu dilindungi UU. Driver Gojek malah demo aja gak boleh. Seperti itukah “Karya Anak Bangsa”?

– satria mahendra –

Workflow Engine Comparison

I was looking at different options for workflow engines. I have some experience in Oozie, little experience in Luigi and no experience in Azkaban. In this post, I will try to give an overview of these engines in terms of their advantages and disadvantages. Take my word with a grain of salt(based on the experience I have with these tools), though.

Crons do not scale(Surprise!)

If you have a lot of processes which manipulate, transform and write data to database, you will sooner or later will face the limitations of the cron jobs. You want to be able to handle failures, debug processes and rerun the failed jobs. You want to have multiple scripts to run based on data availability, data dependency and time-based scheduling. You may want to also share the data workflow with many people where you cannot do any of the items with cron jobs.

What is sufficient?

  • Regular scheduling (depending on data availability and time-based)
  • Workflow of multiple jobs
  • You should be able to write workflows in the same way that you are writing programs
  • You should handle the errors and failures gracefully
  • Communication between cluster and client should be secure
  • Community support should be very good
  • Continuous integration(whenever you push to the master, it should adapt the changes(woohoo!))
  • Testing should be supported out of the box
  • Let’s cut to the chase; pretty much anything that you want to expect from a decent library or framework in terms of software quality and practices

Let’s write our own workflow engine

  • Resources are limited(time, effort, human resources)
  • Is your usage is too specific or could you make it work in one of the available tools?
  • No need to reinvent the wheel

What do we want from the workflow engines?

  • First and foremost: resilient to failures
  • Debugging is necessary and important advantage over cron jobs
  • If we have similar workflows, we should not write too much boilerplate code to make it all work
  • Support for databases, HDFS and common file formats
  • You should be able to write workflows in the same way that you are writing programs
  • You should handle the errors and failures gracefully
  • Communication between cluster and client should be secure
  • Community support should be very good
  • Continuous integration(whenever you push to the master, it should adapt the changes(woohoo!))
  • Testing should be supported out of the box
  • Default logging would be icing on the cake
  • Let’s cut to the chase; pretty much anything that you want to expect from a decent library or framework in terms of software quality and practices

Oozie

Advantages

  • Mature
  • Support from Hadoop community is strong
  • Documentation
  • Default support for Pig, ssh, java, filesystem
  • Coordinators: when data is available, do the computation. For recurring jobs, you do not need to explicitly configure the job flow.
  • Security
  • Built in authentication
  • It has own testing suite(Mini Oozie)

Disadvantages

  • XML(Verbose)
  • Control flow is somehow restrictive
  • Directed Acyclic Graph(Hard to rerun only a component after failure, perfectly goes along with Pig, though; Pig scripts also define DAG)
  • User Interface

Luigi

Advantages

  • Python!
  • Control flow is advanced as tasks are code
  • Dependencies between flows
  • Customization and code reuse through object-oriented programming

Disadvantages

  • Visualizer is not as good as Azkaban
  • No default support for Pig, Hive
  • No storage of history and generally persistent storage is lacking

Azkaban

Advantages

  • If you are using Voldemort, it supports out of the box
  • Visualizations for tasks (svg, interactive) is advanced
  • Authentication and Authorization
  • History of tasks(which are completed and which are not)
  • Plugins for Pig, Hive and many more
  • Web deployment

Disadvantages

  • Support is not as good as Oozie.
  • Scheduling is only time based. AFAIK, no data availability scheduling
  • Workflow is somehow limited and restrictive comparing to Luigi and even Oozie.

Source : http://bugra.github.io/work/notes/2014-04-13/workflow-engine-comparison-first-impressions/

Meyer serial numbers

Courious bout how old those lens, I’ve tried to search in internet and found this valuable information.

I re-post those article here, so I can find it easily – one day.

==

Part of the serial number sequence of lenses made by Meyer Görlitz.[1]

1930: 500 000
1935: 675 000
1949: 1 000 000
1950: 1 200 000
1955: 1 600 000
1960: 3 000 000
Serial number sequence (Thiele 2016)

The numbering sequence, quoted at five year intervals, reconstructed by Hartmut Thiele (without guarantee)[2]

1900: 2163
1905: 14 227
1910: 53 203
1915: 91 369
1920: 155 903
1925: 235 265
1930: 336 157
1935: 660 077
1940: 951 011
1950: 1 104 132
1955: 1 442 000
1960: 2 538 910
1965: 3 786 130
1970: 6 064 888

In other way, I looking for the “Red V” and “1” mark on a Meyer-Optik also. It always come a cross my mind – what does it mean?

This the best answer I got :
V means ‘Vergütet’, that is Coated
The red V is just on the older trioplan, from a time where coating was special. Newer trioplan are all coatet and do not have a red V.

Qualitäts- oder Gütezeichen und Überwachungszeichen der DDR

Gütezeichen „S“, „Sonderklasse
“ (Einführung am 12.06.1950):
• Sonderklasse also sehr hohe Qualität
• Wurde nach der Neuregelung der Gütezeichenvergabe am
08.09.1960 außer Kraft gesetzt und
generell durch das Gütezeichen
„Q“ ersetzt
• häufig auf Kameras, Objektiven zu finden
Anmerkung: das Gütezeichen „S“ wird gelegentlich fälschlich als Stan-
dardqualität“, also geringere Qualität angeben. Es war bis zur Außer-
kraftsetzung im Jahr 1960 das Gütezeichen für sehr gute Qualität.

Gütezeichen „1“ (Einführung am 12.06.1950):
• Erzeugnis hoher Qualität
• Entspricht dem Durchschnitt des Weltmarktes
• Häufig auf Kameras, Objektiven zu finden

Chronologie:
• 21.02.1950  : Einführung des Gütezeichens „Q“ als Gütezeichen der DDR
•12.06.1950   : Einführung der Gütezeichen „S“, „1“ und „2“
sowie des Überwachungszeichens (leeres Dreieck)
•08.09.1960 Außerkraftsetzung des Gütezeichens
„S“, Ersatz durch das Gütezeichen „Q“;
Änderung des Überwachungszeichens (lee
res Dreieck) in Dreieck mit DAMW-
Schriftzug
• 1964 Einbeziehung der Güteklassifizierung in die Preisbildung der Betriebe
• 1970 Abschaffung des Gütezeichens „2“
• 1973 Änderung des Überwachungszeiche
ns (Dreieck mit DAMW-Schriftzug)
in Dreieck mit ASMW-Schriftzug

Source :
http://camera-wiki.org/wiki/Meyer_serial_numbers
http://www.dresdner-kameras.de/files/guetezeichen.pdf