Metode pengupasan biji kopi

Berikut adalah 3 cara umum pengupasan biji:

Metode Kering (Dry / Natural Process)

Metode kering adalah metode pengupasan kopi yang paling tua, paling sederhana, dan paling mudah untuk dijelaskan

Buah kopi matang yang telah dipanen langsung dijemur selama 3-4 minggu untuk mengurangi kadar air hingga 10-12%. Selama penjemuran, kopi dibalik secara rutin agar tingkat kekeringan sama. Metode kering biasa digunakan oleh para petani di Ethiopia dan Brazil karena iklim keringnya .

Setelah kering, kopi masuk ke dalam mesin depulping (pengupas kulit buah) untuk menghilangkan pulp dan parchment. Kelemahan dari metode kering adalah bila kopi terlalu kering, biji kopi akan mudah pecah saat proses depulping.

Cara ini dianggap paling ramah lingkungan karena tidak menyisakan air limbah pengolahan. Walaupun saat ini lebih banyak diterapkan pada biji kopi robusta namun kesadaran lingkungan mulai membuat petani menggunakan metode ini pada biji kopi arabika.

Metode kering akan menghasilkan kopi dengan rasa buah yang lebih kuat, halus, body yang pekat, dan acidity rendah.

Metode Basah (Wet Process)

Metode basah tergolong baru dalam pengupasan biji kopi. Dinamakan ‘basah’ karena biji kopi selalu bersentuhan dengan air selama proses pengupasan. Karena membutuhkan hingga 6 liter air per 1 kilogram kopi, metode ini lebih banyak diterapkan untuk kopi arabika karena harga jualnya yang lebih tinggi daripada robusta.

Pembeda utama antara metode basah dengan kering adalah urutan depulping. Buah kopi yang baru dipanen dimasukkan ke saluran air yang mengarah ke mesin depulping sehingga pulp akan terpisah dari biji. Pulp sisa pengupasan tersebut biasa digunakan sebagai pakan ternak atau bahan kompos.

Biji kopi selanjutnya direndam air selama 12-36 jam. Tujuan dari perendaman ini adalah untuk memfermetasi biji kopi dan untuk menghilangkan lendir (mucilage). Bak rendam sesekali diaduk dan airnya diganti sesuai tingkat fermentasi yang diinginkan. Fermentasi yang terlalu lama akan menghasilkan kopi yang masam dan tidak enak. Tahap fermentasi selesai ketika lendir hilang dan biji kopi terasa kesat.

Limbah air yang digunakan untuk mencuci lendir kopi adalah salah satu efek buruk pengolahan kopi dengan metode basah. Untungnya, saat ini telah dikembangkan teknologi yang dapat menghemat air dengan cara mengurangi, mendaur ulang, dan menyaring air limbah.

Setelah fermentasi selesai, biji kopi dijemur untuk mengurangi kadar air hingga 10-12% yang dilanjutkan dengan proses milling untuk menghilangkan kulit tanduk yang masih tersisa.

Fermentasi terkontrol pada metode basah akan menghasilkan kopi dengan body yang ringan, dan acidity yang lebih menonjol.

Metode Setengah Basah (Semi Washed)

Metode setengah basah menggabungkan keunggulan metode basah-kering. Selain Brazil yang terkenal karena metode ‘pulped natural’-nya, Indonesia boleh bangga karena metode ‘Giling Basah’, yang biasa dipakai oleh petani di Sumatera dan Sulawesi, adalah salah satu metode setengah basah terbaik di dunia.

Diawali seperti metode basah, buah kopi hasil panen dimasukkan ke mesin depulping. Bedanya adalah selesai dikupas, biji kopi tidak didiamkan untuk difermentasi melainkan langsung dijemur untuk dikeringkan hingga kadar airnya 30-35%. Pada tahap ini, fermentasi tetap terjadi karena lendir yang mengandung gula masih menempel di biji kopi. Namun kadarnya tidak sebanyak pada tahap basah.

Selanjutnya biji kopi masuk ke mesin milling untuk menghilangkan kulit tanduk yang tersisa. Setelah bersih dari kulit tanduk, dilakukan pengeringan tahap kedua hingga kadar air mencapai 10-12%.

Pulped natural, honey process, dan giling basah adalah tiga dari banyaknya variasi semi washed process. Perbedaan ketiganya adalah pada banyaknya lendir / mucilage yang tersisa pada penjemuran tahap pertama.

Karena fermentasi terjadi lebih sebentar daripada metode basah, karakteristik metode ini adalah acidity dan body yang lebih seimbang.

Setelah mengetahui tahapan pengupasan kopi, kita tentunya dapat lebih leluasa memilih saat ketika berbelanja biji.

Dari : kopidewa.com

Panduan Seduh Vietnam Drip

Masyarakat Vietnam terkenal suka minum kopi tanpa mengenal waktu dan tempat. Persis seperti di Indonesia, kopi hitam pekat disajikan dengan gula atau susu kental manis untuk mengurangi rasa pahit.

Berikut panduan seduh kopi ala Vietnam, negara saingan utama Indonesia dalam hal ekspor kopi.

Alat dan Bahan

Vietnam Dripper
Penggiling kopi
Timbangan
Termometer
Sendok pengaduk
10 gram kopi
Susu kental manis sesuai selera
250 ml air panas

Langkah 1

Siapkan dripper, gelas saji, susu kental manis, dan sendok pengaduk.

Langkah 2

Timbang kopi sebanyak 10 gram. Disarankan untuk menimbang kopi lebih banyak 1-2 gram dari yang akan digunakan, karena seringkali berat kopi berkurang setelah digiling.

Jika menyukai kopi yang pekat, Anda bisa menggunakan sampai 12 gram kopi. Tapi jika menginginkan yang ringan, 8 gram kopi sudah mencukupi.

Langkah 3

Giling kopi. KopiDewa menggunakan Porlex dengan setelan 7-8 klik dari titik 0 untuk mendapatkan tingkat kehalusan pasir kasar. Sambil menggiling mulailah memanaskan air.

Dengan menggunakan Vietnam Dripper, waktu kontak air dan kopi berlangsung cukup lama. Gunakan gilingan kasar agar kopi tidak over-extracted karena kopi menetes lebih lama.

Langkah 4

Masukkan kopi yang sudah digiling ke dalam dripper, lalu ratakan dengan menepuk-nepuk dripper.

Langkah 5

Tekan kopi dengan tamper, tapi jangan terlalu padat. Tekanan yang terlalu kuat akan membuat hasil akhir terasa burnt karena kopi over-extracted.

Jika dripper Anda menggunakan baut sebagai pengunci tamper, jangan terlalu kencang memutar baut.

Langkah 6

Tuang air bersuhu 90°C sampai dripper hampir penuh. Lalu tunggu hingga kopi menetes perlahan.

Langkah 7

Proses seduh bisa terjadi selama 10 menit. Bila air menetes terlalu cepat, gunakan gilingan yang lebih halus atau tekan kopi lebih padat. Bila terlalu lama, lakukan sebaliknya.

Setelah selesai, gunakan tutup dripper sebagai alas agar tetesan kopi tidak mengotori meja.

Langkah 8

Di Vietnam kopi biasa disajikan dengan gorengan, sama seperti di Indonesia.

Dari : http://kopidewa.com

Panduan Seduh Kalita Drip

Kalita Drip adalah salah satu penyeduh pour over pertama di dunia. Diciptakan tahun 1959, dengan desain yang sebenarnya “mencontek” dripper Melitta, namun disempurnakan dengan hadirnya 3 lubang untuk menghasilkan ekstraksi kopi yang lebih merata.

Penyeduh ini mempunyai tingkat toleransi kesalahan yang tinggi sehingga cocok untuk yang baru mempelajari teknik pour over. Berikut panduannya.

Alat dan Bahan

Kalita Drip ukuran 1-2 cup
Filter trapesium Kalita
Penggiling kopi
Timbangan
Termometer
Teko leher angsa
Stopwatch
25 gram kopi
350 ml air panas

Langkah 1

Lipat filter bagian bawah ke depan dan bagian samping ke belakang.
Letakkan filter yang sudah dilipat ke dalam dripper.

Langkah 2

Timbang kopi sebanyak 25-27 gram. Disarankan untuk menimbang kopi lebih banyak 1-2 gram dari yang akan digunakan, karena seringkali berat kopi berkurang setelah digiling.

Penyeduh pour over apa pun bekerja di titik optimal saat volume kopi mencapai setengah sampai duapertiga kapasitas maksimalnya. Jika kopi terlalu sedikit penyeduhan akan cenderung under-extracted karena kurangnya tekanan. Jika kopi terlalu banyak, air akan mudah meluap saat proses seduh.

Langkah 3

Giling kopi. KopiDewa menggunakan Porlex dengan setelan 7-8 klik dari titik 0 untuk mendapatkan konsistensi seperti pasir kasar. Sambil menggiling mulailah memanaskan air.

Alas Kalita Drip yang rata cenderung mengendapkan air lebih lama. Hal ini dapat diimbangi dengan tingkat gilingan kopi yang agak kasar agar hasil akhir tidak over-extracted.

Langkah 4

Bilas filter dengan air panas untuk menghilangkan bau dan aroma kertas. Pembilasan juga membantu menghangatkan dripper sehingga proses seduh lebih maksimal.

Masukkan kopi yang sudah digiling sebanyak 25 gram ke dalam filter dan dripper yang sudah dibilas. Timbang ulang untuk memastikan beratnya sudah tepat. Ratakan gundukan kopi dengan menepuk-nepuk dripper.

Langkah 5

Nyalakan stopwatch dan kucurkan air bersuhu 85°C sebanyak 50 ml secara perlahan dan merata ke gundukan kopi lalu tunggu 45 detik agar proses blooming terjadi. Usahakan agar tetesan air tidak langsung terkena dinding filter.

Langkah 6

Setelah blooming 45 detik, kucurkan air secara perlahan dengan dengan gerakan melingkar dari dalam ke luar seperti obat nyamuk. Kucurkan air sebanyak 30 ml dan tunggu sampai permukaan air telah turun sebelum mengucurkan 30 ml berikutnya.

Kucurkan air di gundukan yang terlihat gelap dan kering agar proses ektraksi merata.

Langkah 7

Tuang air sampai 250ml dan usahakan untuk menyelesaikan penyeduhan dalam 3-4 menit.

Desain flat bottom dan 3 lubang Kalita Drip membuat alat ini mempunyai toleransi tinggi terhadap kesalahan. Cocok bagi mereka yang baru mempelajari teknik pour over.

Langkah 8

Kopi Anda telah selesai diseduh. Segera singkirkan filter dan ampas kopi lalu bilas dripper dengan sisa air panas. Hal ini bertujuan agar dripper tidak berwarna keruh karena minyak kopi yang menempel.

Langkah 9

Sajikan dengan gelas kecil agar aroma dan rasa lebih terjaga.

Dari : http://kopidewa.com

Panduan Seduh Hario V60

Hario V60 yang dilahirkan tahun 2005 telah menjadi ikon third wave coffee. Banyak café yang memajangnya di etalase entah hanya sebagai hiasan atau memang menyajikan menu manual brew ala V60.

Kali ini, mari kita coba menyeduh kopi dengan alat buatan Raja Gelas dari Jepang.

Alat dan Bahan

Hario V60 ukuran 1-2 cup
Filter kertas Hario
Penggiling kopi
Timbangan
Termometer
Teko leher angsa
Stopwatch
25 gram kopi
350 ml air panas
Langkah 1

Lipat filter mengikuti garis sambungan lalu taruh di dalam corong penyeduh. Letakkan corong penyeduh di atas teko saji.

Langkah 2

Timbang kopi sebanyak 25-27 gram. Disarankan untuk menimbang kopi lebih banyak 1-2 gram dari yang akan digunakan, karena seringkali berat kopi berkurang setelah digiling.

Penyeduh pour over apa pun bekerja di titik optimal saat volume kopi mencapai setengah sampai duapertiga kapasitas maksimalnya. Jika kopi terlalu sedikit penyeduhan akan cenderung under-extracted karena kurangnya tekanan. Jika kopi terlalu banyak, air akan mudah meluap saat proses seduh.

Langkah 3

Giling kopi. KopiDewa menggunakan Porlex dengan setelan 5-6 klik dari titik 0 untuk mendapatkan tingkat kehalusan pasir halus. Sambil menggiling mulailah memanaskan air.

Ukuran lubang bawah Hario V60 cukup besar sehingga proses seduh berlangsung cukup cepat. Hal ini dapat diimbangi dengan tingkat gilingan kopi yang agak halus agar hasil akhir tidak under-extracted.

Langkah 4

Bilas filter dengan air panas untuk menghilangkan bau dan aroma kertas. Jika corong Hario Anda berbahan gelas, keramik, atau logam, pembilasan juga membantu menghangatkan corong sehingga proses seduh lebih maksimal.

Masukkan kopi yang sudah digiling sebanyak 25 gram ke dalam filter dan corong yang sudah dibilas. Timbang ulang untuk memastikan beratnya sudah tepat. Ratakan gundukan kopi dengan menepuk-nepuk corong.

Langkah 5

Nyalakan stopwatch dan kucurkan air bersuhu 85°C sebanyak 50 ml secara perlahan dan merata ke gundukan kopi lalu tunggu 45 detik agar proses blooming terjadi. Usahakan agar tetesan air tidak langsung terkena dinding filter.

Langkah 6

Setelah blooming 45 detik, kucurkan air secara perlahan dengan dengan gerakan melingkar dari dalam ke luar seperti obat nyamuk. Kucurkan air sebanyak 30 ml dan tunggu sampai permukaan air di corong telah turun sebelum mengucurkan 30 ml berikutnya.

Putaran searah jarum jam akan menonjolkan acidity sedangkan berlawanan jarum jam akan meningkatkan body.

Langkah 7

Tuang air hingga mencapai 250ml.

Usahakan untuk menyelesaikan penyeduhan dalam 3-4 menit. Jika terlalu lama kopi cenderung menjadi lebih pahit. Jika terlalu sebentar kopi akan terasa hambar dan asam.

Langkah 8

Kopi Anda telah selesai diseduh. Jika V60 Anda berbahan plastik, segera singkirkan filter dan ampas kopi dari corong penyeduh lalu bilas corong dengan air bersih. Hal ini bertujuan agar corong tidak cepat getas dan warnanya tetap cerah. Anda boleh menunda tahapan ini jika V60 Anda berbahan gelas, keramik, atau logam.

Langkah 9

Sajikan dengan gelas kecil agar aroma dan rasa lebih terjaga.

Dari : http://kopidewa.com

Blooming

Sering kali kita mendengar istilah asing dalam proses pembuatan kopi. Namun karena kurang referensi (atau takut disebut newbie), kita tidak mencari tahu lebih lanjut arti dari kata asing tersebut.

Blooming adalah salah satu istilah yang kerap muncul. Tapi banyak yang belum memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika bubuk kopi sedang “mekar” terkena air. Padahal blooming adalah salah satu penanda awal dari kesegaran kopi yang kita pakai.

Saat kopi disangrai, gas karbon dioksida (CO2) masuk dan terperangkap dalam lubang-lubang kecil di dalam biji kopi. Teorinya, semakin gelap tingkat sangrai, semakin banyak juga CO2 yang terkandung. Karbon yang memang berwarna hitam ikut mempengaruhi warna kopi. Makin hitam biji kopi, makin banyak karbon dioksidanya.

Faktor-faktor yang menentukan kandungan gas CO2 adalah sebagai berikut:

Tingkat Sangrai
CO2 pada light roast tidak sebanyak pada dark roast. Namun biji kopi dark roast pun telah menjadi lebih lunak sehingga gas lebih mudah keluar.
Suhu dan Kelembaban
Tempat penyimpanan yang panas dan lembab akan membuat gas lebih mudah keluar. Selalu gunakan wadah yang rapat untuk menjaga kesegaran biji kopi.
Lama Penyimpanan
Walaupun disimpan di tempat rapat, gas dalam kopi tetap akan keluar. 2-15 hari setelah tanggal roasting adalah waktu optimal kesegaran kopi.
Varietas Kopi
Beberapa varietas kopi mempunyai kepadatan biji yang tinggi. Hal ini membuat gas sulit masuk dan blooming tidak nampak walaupun menggunakan kopi segar.

Saat kita mempertemukan kopi dengan air panas, karbon dioksida yang terperangkap terdorong keluar. Itulah yang dinamakan tahap blooming. Gas yang keluar dari biji kopi menimbulkan buih dan partikel air mulai mengisi lubang kosong membuat kopi mengembang (bloom).

Untuk mencapai blooming maksimal kita cukup menambahkan air sebanyak 2 kali berat kopi yang kita gunakan, misalnya 30 ml air untuk 15 gram kopi. Blooming akan terjadi sekitar 15-45 detik, tergantung banyaknya gas yang terkandung.

Pada tahap ini sebaiknya kita menunggu agar sebanyak mungkin gas bisa keluar, sebelum akhirnya menambah volume air. Kenapa? Karena aliran gas yang keluar mencegah air untuk masuk dan melarutkan kopi. Terlalu banyak air di saat awal penyeduhan malah membuat hasil akhir menjadi hambar.

Dari : http://kopidewa.com/

Barokah

 **
Al Kisah.., pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah semangka tersebut terasa hambar.

.

Dan sang isteri pun marah.
Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai di dengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus: 
“Kepada siapakah kau marah wahai istriku?

Kepada pedagang buahnya kah? atau kepada pembelinya? atau kepada petani yang menanamnya?

ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?”

Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq

Istri beliau terdiam.

Sembari tersenyum., Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:

“Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik…

Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula..!

Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik..!

*Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu..!”*

Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya…

Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya :

“Bertaqwalah wahai istriku…Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya. Agar Allah memberikan keberkahan pada kita”

Mendengar nasehat suaminya itu… Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridho dengan apa yang telah Allah Subhanallohu Wa Ta’ala tetapkan.”

Pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa 

*Setiap keluhan yg terucap sama saja kita tidak ridho dengan ketetapan Allah SWT, sehingga barokah Allah jauh dari kita.*

Karena Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi 

*barokah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.*

Barokah itu: 

*”… bertambahnya ketaatanmu kepada Alloh SWT.*

*Makanan barokah* itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.
*Hidup yang barokah* bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada Allah SWT.
*Barokah itu tak selalu panjang umur,* ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab bin Umair.

*Tanah yang barokah* itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah…tiada banding….tiada tara.

*Ilmu yang barokah* itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barokah ialah ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama Allah.

*Penghasilan barokah* juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

*Anak² yang barokah* bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan yang hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Robb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita & tak henti²nya mendo’akan kedua Orangtuanya.

Semoga kita semua selalu dianugrahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur padaNYA, agar kita me ndapatkan keberkahan Nya.

Aamiin..

Profesor yang meramalkan keruntuhan AS pada 2020

Liputan6.com, Washington, DC – Pernyataan mengejutkan meluncur dari mulut seorang sejarawan. Menurut Peter Turchin, dalam satu dekade ke depan masyarakat Amerika Serikat (AS) akan runtuh karena gejolak politik yang melanda negara-negara Barat.

Prediksi suram dari seorang ahli yang menggunakan matematika untuk meramalkan jalan sejarah seperti halnya yang dilakukan Turchin belum pernah terjadi.

Turchin merupakan seorang profesor dari departemen ekologi dan biologi evolusioner di University of Connecticut.Sosok Turchin adalah ahli terkemuka dari disiplin ilmu cliodynamics, yang percaya bahwa peristiwa sejarah seperti pertumbuhan dan runtuhnya kerajaan atau agama diikuti dengan pola yang dapat didefinisikan dengan jelas.

Dan ia sendiri meyakini bahwa masa depan yang suram tengah menghantui Amerika. Bahkan prediksinya, Negeri Paman Sam akan menghadapi keruntuhannya.

Jika AS runtuh, maka Eropa dan Barat secara keseluruhan akan mengalami nasib serupa.

Dalam sebuah artikel yang ditulis akhir tahun lalu dan dilansir belum lama ini di Phys.Org, Turchin menyebutkan bahwa pada tahun-tahun mendatang akan terjadi kekacauan politik. Puncaknya ada pada tahun 2020-an.

“Tapi ini adalah prediksi yang berbasis ilmu pengetahuan, bukan ‘ramalan.’ Ini didasarkan pada ilmu sosial yang solid,” tegas Turchin seperti dikutip dari News.com.au, Kamis, (5/1/2017).

Ia tak sependapat dengan orang-orang yang histeris dengan kehadiran Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat. Selama ini Trump kerap dijuluki sebagai satu dari ’empat penunggang kuda pembawa kiamat’ yang dikisahkan dalam Kitab Wahyu.

Namun menurut Turchin, kemenangan Trump ini tidak ada apa-apanya. Karena pada dasarnya, nasib suram tersebut sudah ditakdirkan tak peduli siapa yang berkuasa.

“Masyarakat kita, sama seperti seluruh masyarakat kompleks sebelumnya, berada di rollercoaster. Kekuatan sosial impersonal membawa kita ke atas, kemudian terjun tak terelakkan,” terang Turchin.

Lebih lanjut sang profesor mengatakan, kekacauan akan didorong oleh proses “ledakan elite”. Yang dimaksudnya adalah jumlah orang-orang kaya atau kalangan elite dalam masyarakat tumbuh pesat dan jurang pemisah antara mereka dengan warga miskin kian lebar.

“Ledakan elite pada umumnya akan mengarah ke lebih banyak kompetisi intra-elite yang secara bertahap melemahkan semangat kerja sama, menyebabkan polarisasi ideologi dan fragmentasi kelas politik,” tulisnya.

“Hal ini terjadi karena semakin banyak pesaing, semakin banyak pula yang berakhir di pihak yang kalah. Sebuah kelas besar dari elite yang tidak puas, kebanyakan di antara mereka berpendidikan dan sangat mampu ditolak aksesnya ke posisi elite,” ungkap Turchin.

Akademisi itu juga menyinggung “stagnasi dan penurunan standar hidup serta menurunnya kesehatan fiskal negara sebagai akibat dari jatuhnya pendapatan negara dan meningkatnya biaya” dapat memicu potensi kemerosotan drastis.

Namun bagaimana pun Turchin menegaskan, teorinya ini dapat membantu masyarakat menghindari nasib suram. Caranya dengan mengamati tren dan menghentikannya sebelum menimbulkan masalah bagi masyarakat.

“Kita dapat menghindari yang terburuk, mungkin dengan beralih ke trek yang kurang mengerikan. Mungkin pula dengan jalan mendesain ulang rollercoaster,” pungkasnya