Meyer-Optik Gorlitz Trioplan 50 mm f/ 2.9 V Lens specification

Format: 35mm SLR
Type: Prime lens
Focusing: Manual Focus (MF)
Lens mounts: M42, Exakta, Altix bayonet mount
Optical design: 3 elements in 3 groups, triplet

Specifications:

Additional information:
The Meyer-Optik Görlitz Trioplan 50 mm f/ 2.9 V  is a standard prime lens for 35 mm  SLR cameras with the M42 screw mount.

Source : http://allphotolenses.com/lenses/item/c_1294.html

Advertisements

Installing R, Java without root privileges

I needed R, Java and rJava to be installed on remote computer, but I did not have root privileges (what a pity). The installation of R in local directory is very easy and described elsewhere (http://unix.stackexchange.com/questions/149451/install-r-in-my-own-directory). rJava installation is a bit tricky, but still possible.
During installation, rJava throws a lot of errors (the most common is “Unable to compile a JNI program”). To solve this, I was to accurately modify Java environment variables.
But, from the very beginning.

  1. Install R (R-3.1.1 in my case)
  2. Download Oracle 1.7.0u71 JDK from here (http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/jdk7-downloads-1880260.html).
  3. Unpack it to /home/user/local/lib.
  4. To install rJava correctly without errors, specify all necessary environment variables in .bashrc. Add these lines to the bottom of .bashrc:
    # java related variables
    export JAVA_HOME="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/"
    export JAVA_JRE="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/bin"
    export PATH="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/bin:$PATH"
    export PATH="$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/bin:$PATH"
    export JAVA_CPPFLAGS="-I$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/include -I$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/include/linux"
    export JAVA="$JAVA_HOME/bin/java"
    export JAVA_LIBS="-L$HOME/local/lib/jdk1.7.0_71/jre/lib/amd64/server -ljvm"
    export LD_LIBRARY_PATH=$JAVA_HOME/jre/lib/amd64:$JAVA_HOME/jre/lib/amd64/server
  5. Source .bashrc file in console: source .bashrc
  6. Run R CMD javareconf -e in console to ensure that all is correct.

After this installation of rJava should be successful.

 

source : https://yetanotherbiochemblog.wordpress.com/2014/11/07/install-rjava-for-local-java-installation/

Sisi lain transportasi online

 Sebenarnya saya sudah agak malas menulis soal transportasi online. Karena sebelumnya saya mengira pemerintah/otoritas terkait tidak paham wujud asli dari startup2 transportasi online (dan juga e-commerce) yg sejatinya mirip2 skema ponzi (menggunakan uang investor kedua untuk membayar keuntungan investor pertama, lalu menggunakan uang investor ketiga untuk membayar keuntungan investor kedua, dst. Detailnya pernah saya tulis satu setengah tahun yg lalu disini: https://www.facebook.com/satria.mahendra/posts/10153669779028172) Tapi ternyata pemerintah tahu nature bisnis aslinya memang seperti itu. Sayangnya pemerintah malah mendukung dengan alasan mengembangkan ekonomi kreatif, inovasi teknologi, dsb. (https://kominfo.go.id/content/detail/10849/pemerintah-optimistis-ada-5-unicorn-di-2019/0/sorotan_media). 
Pemerintah dalam hal ini Kemkominfo tahu soal strategi exit melalui bursa saham, bahkan mendukung strategi exit tsb. Pemerintah bahkan mempermudah persyaratan startup untuk melantai di bursa. Jika perusahaan lain umumnya harus menyerahkan laporan keuangan 3 tahun terakhir, untuk startup hanya 1 tahun terakhir. Inilah yg bikin saya mulai malas membahas soal startup model begini. Karena Pemerintah yg saya harapkan dapat menjinakkan bom waktu yg suatu saat akan meledak ini, malah membiarkan bahkan merawat bom itu. 
Namun berhubung di beberapa daerah (Jabar, Banyumas, Magelang, Batam, Yogya, Solo, Garut, Pekanbaru, Makassar, Medan, dan Tasikmalaya) Pemdanya justru melarang keberadaan transportasi online, membuat saya sedikit bersemangat untuk kembali menulis soal ini. Karena saya melihat, solusi yg diberikan oleh Pemda berupa pelarangan kurang tepat juga. Karena permasalahan sebenarnya dari transportasi online itu bukan pada keberadaannya, ataupun pada teknologi yg dipakai. Sekarang kan terkesan Pemda2 itu anti kemajuan teknologi, dianggap mundur kebelakang pemikirannya, padahal zaman makin maju. Kemajuan teknologi tidak mungkin dapat dibendung. Kitalah yg harus beradaptasi jika tidak mau digilas. 
Mengatakan pemda2 tsb sebagai kolot, terbelakang, anti kemajuan teknologi dsb, hanya karena melarang keberadaan transportasi online sangatlah tidak tepat. Karena di beberapa negara maju pun terjadi pelarangan transportasi online seperti di beberapa kota di AS dan Kanada, Bulgaria, Denmark, Hungaria, Italia, Perancis, Spanyol, Belanda, Taiwan, Northern Territory – Australia, London-UK, dll (https://www.cntraveler.com/story/where-uber-is-banned-around-the-world; http://www.news.com.au/finance/business/uber-blocked-from-operating-in-london-after-company-deemed-not-fit-and-proper/news-story/6dd3b48128316372a016379ad0437bf1)
Apakah mereka akan kita sebut kolot juga? Tentu tidak. Bahkan negara2 tersebut jauh lebih maju daripada kita. Lalu mengapa mereka melarangnya? Karena memang ada permasalahan mendasar yg membuat keberadaan transportasi online tersebut menyulut konflik horizontal dengan transportasi konvensional. 
Permasalahan tersebut terletak bukan pada teknologinya namun pada SUBSIDI yang dijadikan strategi perusahaan transportasi online untuk merebut pangsa pasar transportasi konvensional. 
SUBSIDI TARIF
Mungkin banyak orang yang tidak tahu mengapa tarif transportasi online bisa sangat murah dibandingkan transportasi konvensional. Ada juga sebagian yang berpendapat karena sharing economy yg membuat cost dapat ditekan sehingga harga menjadi murah. Namun faktanya bukan sharing economy yg membuat tarif mereka murah, melainkan SUBSIDI DRIVER (atau Subsidi Penumpang, tergantung sudut pandangnya).
Sebagai ilustrasi, jika anda membayar Rp.2500/km bukan berarti sejumlah itu pula yg didapat oleh driver. Driver sebenarnya mendapatkan Rp.4000/km (diluar bonus). Rp.2500 dari uang anda, Rp.1500nya dikreditkan oleh perusahaan ke rekening Driver. Inilah yg disebut SUBSIDI.
SUBSIDI inilah yg sebenarnya menggerakkan roda perusahaan transportasi online. Tanpa Subsidi, tarif mereka tidak akan murah karena driver pasti tidak mau dibayar murah. Sebaliknya jika tarif mahal, maka penumpang akan sepi. 
Jadi SUBSIDI inilah yg sebenarnya menjadi biang masalah antara Transportasi Online dan Konvensional yg tidak mungkin memberikan subsidi karena itu sama artinya perusahaan merugi. Sedangkan perusahaan Transportasi Online, meskipun merugi, tapi mereka tidak ambil pusing selama suntikan modal dari venture capital/investor terus mengalir. Inilah yg disebut dengan Bakar-Bakar Uang. Istilah ini bukan karangan saya, tapi memang istilah resmi yg dipakai, bahkan salah satu parameter keberhasilan startup dimata investor adalah tingginya BURNING RATE. 
Mungkin ada yg bertanya, darimana perusahaan transportasi online dapat untung jika mereka hanya bakar2 uang? Sebagaimana startup lainnya mereka akan mendapat untung setelah menjual perusahaannya kepada perusahaan lain (akuisisi) atau menjual sahamnya di bursa. “Tapi kan itu perusahaan merugi, emang ada yg mau beli?” Percaya tidak percaya, jawabannya ADA. Di bursa saham apalagi. Saya banyak menjumpai perusahaan yg merugi tiga tahun berturut namun bisa masuk bursa (IPO), dan luarbiasanya harga sahamnya langsung melejit hingga ribuan persen. Bahkan yang terbaru ada Startup KIOSON, startup pertama yg melantai di BEI, harga sahamnya sudah naik 1000% (atau sepuluh kali lipat) dari harga perdananya, hanya dalam waktu kurang dari 3 minggu. Dan sekarang masih terus naik. Padahal sejak berdiri 2015 dia merugi setiap tahun.
Jangan tanyakan pada saya mengapa ada orang yang mau membeli perusahaan yg tiga tahun merugi. Silahkan anda lihat fenomena demam anturium, arwana, batu akik, dsb., maka anda akan tahu jawabannya: GREED. Walaupun tidak menutup kemungkinan perusahaan yg sekarang merugi akan mencetak profit beberapa tahun yang akan datang, sehingga inilah yang menarik minat investor untuk berinvestasi di perusahaan yg sedang merugi. Namun bukan berarti tidak ada orang yg beli perusahaan tsb karena dilandasi faktor GREED semata, bahkan jika para trader saham mau jujur maka mereka akan menjawab bahwa motivasi utama mereka melakukan trading saham adalah karena faktor tsb.
Kembali ke soal SUBSIDI
UBER sebagai perusahaan transportasi Online terbesar di dunia, pada paruh pertama 2016 menghabiskan $1,27 Miliar (setara Rp 16,51 Triliun) hanya untuk SUBSIDI. (http://www.hybridcars.com/uber-loses-1-27-billion-as-driver-subsidies-and-competition-take-their-toll/)
GOJEK selama periode Oktober 2015-Maret 2016 menghabiskan $72,6 Juta (atau Rp943,8 Miliar) untuk SUBSIDI. (https://www.techinasia.com/gojeks-numbers-leaked)
Angka diatas hanya untuk periode 6 bulan. Bayangkan berapa banyak yg mereka habiskan untuk subsidi selama berapa tahun mereka telah beroperasi. Dan keduanya sampai sekarang masih membukukan laporan keuangan negatif alias merugi. 
Sekarang mari kita pikirkan, mampukah perusahaan transportasi konvensional bersaing head to head dengan mereka jika mereka sendiri sanggup menanggung kerugian ratusan milyar hingga triliunan rupiah? Perusahaan transportasi konvensional mana yg siap menanggung kerugian sebesar itu demi mengalahkan transportasi online? 
Jadi jangan pakai dalih “sharing economy”, “disruptive innovation”, “Adapt or Die”, dan istilah2 “keren” lainnya. Karena bukan itu yg membuat GOJEK, UBER, GRAB mampu merebut pangsa pasar dari transportasi Konvensional. Mereka berhasil mencapai apa yg mereka capai sekarang semata2 karena mereka mampu bakar uang triliunan rupiah! TITIK. 
BOM WAKTU
Sopir transportasi konvensional, Sopir transportasi online, dan para penumpang/masyarakat, semuanya adalah KORBAN (atau akan menjadi korban) dari ledakan bom waktu model bisnis transportasi online yg demikian.
Mengapa saya katakan begitu?

Mari kita prediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang jika hal ini dibiarkan. 
Pertama, angkutan konvensional akan bangkrut. Banyak sopir yg kehilangan sumber nafkah beserta keluarganya yg kehilangan sumber makan. Bukan karena mereka tidak mampu bersaing secara alami, namun karena diluar sana ada pemodal berkantong super tebal yang sedang bakar-bakar uang.
Kedua, setelah angkutan konvensional berhasil disingkirkan, tinggallah transportasi online menguasai/memonopoli pasar. Saat itulah mereka mulai memikirkan how to make profit. Caranya? Cabut SUBSIDI. Tarif akan dinaikkan ke level yg menguntungkan bagi perusahaan. Dan karena tidak ada aturan yg membatasi berapa tarif maksimal yg bisa mereka tetapkan, maka suka2 mereka mau pasang tarif berapa. Bisa saja lebih mahal dari transportasi konvensional. Dampaknya… Masyarakat dirugikan. Mau naik transportasi konvensional tidak bisa karena sudah tidak ada atau minimal susah dicari karena sudah pada bangkrut. 
Bisa saja masyarakat menggunakan transportasi massal, tapi ini akan berdampak driver transportasi online kehilangan penumpang. Merekapun akhirnya dirugikan.
Jadi bagi anda yg sekarang merasa senang dengan keberadaan transportasi online bertarif murah itu, tunggulah masanya akan tiba dimana anda harus bayar mahal. Dan kepada driver online yg merasa pekerjaannya memberikan keamanan finansial, tunggulah waktunya ketika Subsidi anda dicabut. 
SOLUSINYA
Sebenarnya solusi ini sudah pernah ada. Dulu sempat ada, sekarang tidak ada lagi. Apa itu? Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 yang didalamnya diatur soal batas bawah dan batas atas tarif transportasi online. Sayangnya Permenhub ini diuji materil ke MA oleh (katanya) para driver transportasi online. Mereka menolak adanya pembatasan tarif bawah!! 
Bukankah ini aneh? Dimana2 pembatasan tarif bawah ditujukan untuk melindungi sopir agar tidak dibayar kemurahan oleh penumpangnya. Permenhub itu menetapkan tarif bawah Rp3500/km dan tarif atas Rp. 6000/km. Logikanya, para driver ini tidak ingin dibayar Rp. 3500, maunya mereka dibayar Rp 2500 atau bahkan Rp1.500. Aneh kan? Alasan penolakan mereka adalah penetapan batas bawah membuat mereka tidak bisa menetapkan harga yg lebih murah. Ini mereka katakan sendiri. (http://www.beritasatu.com/ekonomi/448528-ma-perintahkan-menhub-cabut-aturan-tarif-angkutan-online.html). 
Padahal, murahnya tarif online itu bukan karena cost yg murah, tapi karena SUBSIDI seperti yg telah diuraikan di atas. Makanya saya sendiri tidak yakin mereka itu menyuarakan aspirasi driver, tapi sepertinya mereka sedang menyuarakan aspirasi manajemen transportasi online yang ingin tetap merebut pangsa pasar transportasi dari perusahaan konvensional dengan cara bakar-bakar uang itu. 
Sayangnya, MA mengabulkan gugatan tersebut!. 
Saya yakin, di lapangan para driver yang sesungguhnya pasti akan lebih memilih dibayar Rp.3500 daripada Rp.2500. Selain ini sangat logis, ada bukti lainnya. Ketika beberapa waktu yg lalu manajemen Gojek memperbesar prosi bagi hasil utk perusahaan, banyak driver Gojek yg demo. Porsi mereka diperkecil aja mereka demo, maka tentu jika dikasih pilihan mau 3500 atau 2500, mereka pasti pilih yg pertama. 
Sayangnya sekarang Driver Gojek tidak bisa demo lagi. Sudah dilarang sama manajemen. Barangsiapa yg demo, langsung dipecat! Ini ada dalam peraturan Gojek mengenai pelanggaran yg berakibat manual suspend no. 29 (https://driver.go-jek.com/hc/id/articles/115000020907-Jenis-jenis-Pelanggaran-GO-JEK). 

Buruh aja masih boleh mogok kerja, dan itu dilindungi UU. Driver Gojek malah demo aja gak boleh. Seperti itukah “Karya Anak Bangsa”?

– satria mahendra –

Workflow Engine Comparison

I was looking at different options for workflow engines. I have some experience in Oozie, little experience in Luigi and no experience in Azkaban. In this post, I will try to give an overview of these engines in terms of their advantages and disadvantages. Take my word with a grain of salt(based on the experience I have with these tools), though.

Crons do not scale(Surprise!)

If you have a lot of processes which manipulate, transform and write data to database, you will sooner or later will face the limitations of the cron jobs. You want to be able to handle failures, debug processes and rerun the failed jobs. You want to have multiple scripts to run based on data availability, data dependency and time-based scheduling. You may want to also share the data workflow with many people where you cannot do any of the items with cron jobs.

What is sufficient?

  • Regular scheduling (depending on data availability and time-based)
  • Workflow of multiple jobs
  • You should be able to write workflows in the same way that you are writing programs
  • You should handle the errors and failures gracefully
  • Communication between cluster and client should be secure
  • Community support should be very good
  • Continuous integration(whenever you push to the master, it should adapt the changes(woohoo!))
  • Testing should be supported out of the box
  • Let’s cut to the chase; pretty much anything that you want to expect from a decent library or framework in terms of software quality and practices

Let’s write our own workflow engine

  • Resources are limited(time, effort, human resources)
  • Is your usage is too specific or could you make it work in one of the available tools?
  • No need to reinvent the wheel

What do we want from the workflow engines?

  • First and foremost: resilient to failures
  • Debugging is necessary and important advantage over cron jobs
  • If we have similar workflows, we should not write too much boilerplate code to make it all work
  • Support for databases, HDFS and common file formats
  • You should be able to write workflows in the same way that you are writing programs
  • You should handle the errors and failures gracefully
  • Communication between cluster and client should be secure
  • Community support should be very good
  • Continuous integration(whenever you push to the master, it should adapt the changes(woohoo!))
  • Testing should be supported out of the box
  • Default logging would be icing on the cake
  • Let’s cut to the chase; pretty much anything that you want to expect from a decent library or framework in terms of software quality and practices

Oozie

Advantages

  • Mature
  • Support from Hadoop community is strong
  • Documentation
  • Default support for Pig, ssh, java, filesystem
  • Coordinators: when data is available, do the computation. For recurring jobs, you do not need to explicitly configure the job flow.
  • Security
  • Built in authentication
  • It has own testing suite(Mini Oozie)

Disadvantages

  • XML(Verbose)
  • Control flow is somehow restrictive
  • Directed Acyclic Graph(Hard to rerun only a component after failure, perfectly goes along with Pig, though; Pig scripts also define DAG)
  • User Interface

Luigi

Advantages

  • Python!
  • Control flow is advanced as tasks are code
  • Dependencies between flows
  • Customization and code reuse through object-oriented programming

Disadvantages

  • Visualizer is not as good as Azkaban
  • No default support for Pig, Hive
  • No storage of history and generally persistent storage is lacking

Azkaban

Advantages

  • If you are using Voldemort, it supports out of the box
  • Visualizations for tasks (svg, interactive) is advanced
  • Authentication and Authorization
  • History of tasks(which are completed and which are not)
  • Plugins for Pig, Hive and many more
  • Web deployment

Disadvantages

  • Support is not as good as Oozie.
  • Scheduling is only time based. AFAIK, no data availability scheduling
  • Workflow is somehow limited and restrictive comparing to Luigi and even Oozie.

Source : http://bugra.github.io/work/notes/2014-04-13/workflow-engine-comparison-first-impressions/

Meyer serial numbers

Courious bout how old those lens, I’ve tried to search in internet and found this valuable information.

I re-post those article here, so I can find it easily – one day.

==

Part of the serial number sequence of lenses made by Meyer Görlitz.[1]

1930: 500 000
1935: 675 000
1949: 1 000 000
1950: 1 200 000
1955: 1 600 000
1960: 3 000 000
Serial number sequence (Thiele 2016)

The numbering sequence, quoted at five year intervals, reconstructed by Hartmut Thiele (without guarantee)[2]

1900: 2163
1905: 14 227
1910: 53 203
1915: 91 369
1920: 155 903
1925: 235 265
1930: 336 157
1935: 660 077
1940: 951 011
1950: 1 104 132
1955: 1 442 000
1960: 2 538 910
1965: 3 786 130
1970: 6 064 888

In other way, I looking for the “Red V” and “1” mark on a Meyer-Optik also. It always come a cross my mind – what does it mean?

This the best answer I got :
V means ‘Vergütet’, that is Coated
The red V is just on the older trioplan, from a time where coating was special. Newer trioplan are all coatet and do not have a red V.

Qualitäts- oder Gütezeichen und Überwachungszeichen der DDR

Gütezeichen „S“, „Sonderklasse
“ (Einführung am 12.06.1950):
• Sonderklasse also sehr hohe Qualität
• Wurde nach der Neuregelung der Gütezeichenvergabe am
08.09.1960 außer Kraft gesetzt und
generell durch das Gütezeichen
„Q“ ersetzt
• häufig auf Kameras, Objektiven zu finden
Anmerkung: das Gütezeichen „S“ wird gelegentlich fälschlich als Stan-
dardqualität“, also geringere Qualität angeben. Es war bis zur Außer-
kraftsetzung im Jahr 1960 das Gütezeichen für sehr gute Qualität.

Gütezeichen „1“ (Einführung am 12.06.1950):
• Erzeugnis hoher Qualität
• Entspricht dem Durchschnitt des Weltmarktes
• Häufig auf Kameras, Objektiven zu finden

Chronologie:
• 21.02.1950  : Einführung des Gütezeichens „Q“ als Gütezeichen der DDR
•12.06.1950   : Einführung der Gütezeichen „S“, „1“ und „2“
sowie des Überwachungszeichens (leeres Dreieck)
•08.09.1960 Außerkraftsetzung des Gütezeichens
„S“, Ersatz durch das Gütezeichen „Q“;
Änderung des Überwachungszeichens (lee
res Dreieck) in Dreieck mit DAMW-
Schriftzug
• 1964 Einbeziehung der Güteklassifizierung in die Preisbildung der Betriebe
• 1970 Abschaffung des Gütezeichens „2“
• 1973 Änderung des Überwachungszeiche
ns (Dreieck mit DAMW-Schriftzug)
in Dreieck mit ASMW-Schriftzug

Source :
http://camera-wiki.org/wiki/Meyer_serial_numbers
http://www.dresdner-kameras.de/files/guetezeichen.pdf

TDS and Coffee

What is TDS?

To make a great cup of coffee you not only want the best coffee beans available but also the best water. One of the most important aspects to look at when rating the quality of water is the TDS. TDS stands for Total Dissolved Solids. A TDS measurement represents the total concentration of dissolved substances in the water, which can include minerals, salts, and other solids (1). The amount and type of solids that are dissolved in the water will affect its flavor. Because coffee is about 96 percent water, the TDS of water used in the brewing process will greatly affect the quality of the finished product.

TDS readings vary greatly between different kinds of water. Most distilled water has a TDS of 0 ppm (parts per million). During the distillation process steam is condensed from boiling water and the result is pure water with no dissolved solids. Spring water on the other hand has a relatively high TDS, which can range from 50 to 450 ppm (2). This is because the water picks up different minerals and salts on its journey through underground rock passages and cracks in the earth on its way to the spring. The result is water with a high level of dissolved solids. Tap water is somewhere in between these two. Ideal tap water ranges from 100-150 ppm while average tap water can range from 100-400 ppm (2). So what does this all have to do with coffee?

The TDS of water not only can affect the initial flavor of a cup of coffee but it can also affect the extraction process. The idea is that low TDS waters tend to over extract coffee. There are little to no solids dissolved in these waters so they have a greater ability to absorb coffee material from the ground beans. This will lead to a coffee that is bitter and dry. On the other hand, high TDS waters often have high mineral contents and tend to under extract coffee. These waters already have a high level of solids dissolved in them and will have less capacity to absorb coffee material from the coffee grounds. This may lead to a coffee that is sour or lacking sweetness. According to the Specialty Coffee Association of America (SCAA) the ideal TDS range for the water used to brew coffee is 75-250 ppm. The target TDS is 150 ppm (3). The target TDS of 150 ppm should lead to a properly extracted cup of coffee with balanced flavors and acidity.

TDSScale


After some test here are the conclusion

While the SCAA sets a target TDS range of 75-250 ppm and an ideal value of 150 ppm these are simply guidelines. It is important to note that while two waters may have the exact same TDS values they can have totally different flavor profiles. An extreme example would be if we dissolved 10 grams of salt into a liter of water and 10 grams of sugar into another liter of water. These waters might end up having the same TDS values but they would obviously taste completely different.The idea is that the TDS alone affects the extraction process. Low TDS waters tend to over extract coffee. There are little to no solids dissolved in these waters so they have a greater ability to absorb coffee material from the ground beans. This will lead to a coffee that is bitter and dry. On the other hand, high TDS waters often have high mineral contents and tend to under extract coffee. These waters already have a high level of solids dissolved in them and will have less capacity to absorb coffee material from the coffee grounds. This may lead to a coffee that is sour or lacking sweetness.

This being said, what exactly is dissolved in the water will definitely affect its flavor and the flavor of a cup of coffee brewed with that water. This is why we saw differences in coffee brewed with each type of water. Even thought the city waters were fairly close in TDS values (R-120, CH-125, D-132), they each presented different aromas and flavor profiles because of the different kinds of solids dissolved in each water.

We were very surprised at the differences in flavor between coffee made with water from Raleigh, Durham, and Chapel Hill. The coffees brewed with the bottled waters also presented a wide variety of flavors and aromas compared to each other. We would like to point out that we did use the exact same brewing methods for each water during our tasting at HQ Raleigh. We mention this because while this method may have brought out certain qualities in the Durham or Chapel Hill waters we could have easily tweaked some aspects of the brewing to dial in anyone of the waters. So in this way the TDS serves as a useful guideline that a barista or coffee connoisseur can use to help dial in their particular cup of coffee.

References

http://www.safewater.org/

http://www.tdsmeter.com/

http://www.scaa.org/

 source : https://www.raleighcoffeecompany.com

Cupping, Seni Menilai Secangkir Kopi

Ada sekitar 800 karakter kopi di dunia. Mari kenali lewat cupping, seni menghirup aroma, menyeruput, dan meneguk kopi.

Bak minum anggur, menikmati kopi bukanlah seperti menenggak segelas besar bir. Sehitam neraka, sekuat kematian, dan semanis cinta itulah nikmatnya kopi, kata orang Turki yang mengenalkannya pada orang Barat.

“Rasanya seperti air kobokan!” komentar dosen ahli kajian film Prancis tentang sajian kopi di rehat lokakarya estetika film di IKJ pertengahan 2006 lalu. Kopi yang disajikan itu nasgitel (panas, legi, kentel—panas, manis, kental), khas Jawa. Ada pula kopi tubruk dan kopi pekat. Penggemar biasa meminumnya sambil menggigit gula merah. Sedangkan orang Aceh gemar kopi telur, kopi tarik, kopi sanger, dan kopi saring yang kadang disebut cappuccino Aceh.

Sementara, bule dan pencinta kopi sejati akan mencari single origin (kopi murni khas suatu daerah) dan blend (racikan beberapa jenis kopi) yang dinikmati pekat murni—tanpa gula atau susu. Pahit? “Kopi itu sangat berkarakter,” ujar Dewi “Dee” Lestari dalam kumpulan cerpennya, Filosofi Kopi (Truudee Books & Gagas Media, 2006). Nah!

“Ada sekitar 800 karakter kopi,” papar Agustinus Tassi, roaster (ahli penyangrai kopi) dari Caswell’s Fine Coffee and Teas. Ini bisa dikenali dan dipelajari lewat cupping, coffee tasting alias “upacara” singkat mengenali dan membandingkan sejumlah karakter beberapa kopi.

Filosofi Kopi
Mengikuti cupping bak menyiapkan diri menjalani general check up kesehatan dan menonton konser. Kita diharapkan tak menyantap apa pun 30 menit sebelumnya. Tujuannya, agar mulut dan kerongkongan kita netral. Kita juga dianjurkan tidak memakai parfum yang tajam. Yang tak kalah penting, untuk sementara waktu “bunuh” telepon genggam. Ruangan dikondisikan tanpa pewangi dan pendingin udara. Semuanya mendukung tuntutan akan suasana tenang dan konsentrasi penuh.

Cupping adalah “upacara” di specialty coffee café macam Caswell’s, Anomali, Starbucks yang rutin diadakan sampai tiga kali seminggu. Idealnya diikuti roaster, barista (peramu kopi), petani kopi, eksportir kopi, dan pencinta kopi sejati. Tujuan cupping adalah menjaga standar mutu kopi yang disajikan pada tamu dan pelanggan.

Di kedai kopi berkesan homey, itu ada meja kayu persegi empat yang telah ditata untuk “jamuan” delapan orang. Di tengah meja ada empat baki kecil yang masing-masing berisi green beans (biji kopi yang belum disangrai), dan biji kopi yang sudah disangrai berlabel A dan B yang tampak hitam dan berkilau. Ada lagi dua kantong kertas yang masing-masing berisi kopi bubuk berlabel A dan B. Kopi bubuk inilah contoh kopi yang akan dinilai.

Di hadapan peserta “upacara” telah ditata selembar cupping form di atas lembar coffee Taster’s Flavor Wheel. Di sisinya ada tissue mengalasi sendok kopi ukuran 8 g. Di sebelah depan ada dua gelas kaca ukuran 240 ml berisi kopi seduh berlabel A dan B, gelas kaca tinggi berisi air bening, dan gelas kaca kosong untuk ampas kopi.

“Upacara” dimulai usai Agustinus Tassi membuka resmi dengan pengantar singkat. Peserta mulai beraksi dengan mendekatkan kantong bubuk kopi A ke bawah hidung, menyendok bubuknya mendekat ke hidung dan menghirup fragrance, wangi kopi yang menguar dari kopi bubuk sebelum diseduh. Lalu, peserta memberi penilaian dengan kisaran angka 1 —10, dari yang paling payah sampai terhebat.

“Tak ada ‘salah benar’ dalam menilai kopi dan menikmati kopi dalam beragam cara. Semuanya terpulang pada selera kita sendiri,” tutur Henry Caswell Harmon, si pendiri Caswell’s menenangkan

Fragrance, aroma, acidity, dan body adalah karakter utama kopi.
Kopi yang baik, karakternya tetap kuat meski dicampur apa saja.

Dalam cupping, yang pertama kita kenali adalah menghirup wangi kopi yang menguar dari dari kopi bubuk yang belum diseduh. Langkah kedua, kita mengambil gelas A berisi 7 g bubuk kopi yang dua menit sebelumnya diseduh air 150 ml dan mendekatkannya ke hidung. Dengan sendok, ampasnya disibak ke pinggir dan dihirup aromanya.

“Sensasi seperti apakah yang terasa dari uapnya?” kata Agus sambil menunjuk ke bagian aroma kopi di bagan lingkaran karakteristik kopi. Apakah enzymatic (seperti bunga, buah, rempah), sugar browning/gula panggang (seperti kacang, karamel, cokelat), atau dry distillation/bakaran (karbon, bumbu, obat-obatan).

“Upacara” ketiga, acidity, keasaman kopi. Pada tahapan ini peserta mengangkat gelas, menyingkirkan ampas ke gelas kosong, menyendok kopi, dan menyeruput sampai bunyi. Saat kopi menyentuh langit-langit mulut dan tepian bawah lidah peserta akan merasakan keasaman seperti ketika menyantap buah atau menyesap anggur, dengan selintas rasa “manis”. Skala penilaiannya 1 (very flat), 3 (very soft), 5 (slightly sharp), 7 (very sharp), dan 10 (very bright).

Keempat, sampailah pada point terpenting : flavor (cita rasa). Peserta merasakan apakah ada paduan aroma dan rasa ketika kopi menguapi langit-langit mulut saat diseruput. Skala penilaian untuk aspek cita rasa ini antara 1 (terpayah) dan 10 (terhebat).

Langkah kelima, body, kekentalan dari lemak, minyak, dan endapan yang terasa ketika kopi diseruput. “Bayangkan seperti ketika menyeruput susu,” kata Agus. Skala nilainya 1 (very thin), 4 (light), 6 (full), 9 (heavy) dan 10 (very heavy).

Langkah ketiga sampai kelima di atas, kopi cukup diseruput, tak sampai diteguk. Begitu kita cukup merasa-rasa, kopi dimuntahkan lagi ke gelas ampas. Bila belum yakin, bisa diulang lagi. Kopi baru diteguk pada tahap keenam, aftertaste untuk merasakan cita rasa yang melekat di kerongkongan saat kopi diteguk. Skala untuk tahap keenam ini antara 1 (terpayah) dan 10 (terhebat).

Di antara langkah ketiga sempai keenam, kita bisa meneguk air bening untuk menetralkan mulut. Terakhir, kita memberikan cupper’s point/balance atau nilai keseluruhan pada semua kategori tadi dengan skala -5 (terpayah) dan +5 (terhebat).

Selesai dengan kopi A, peserta mengulangi semua langkah tadi pada kopi B. Nilai keseluruhan A dan B menjadi patokan hasil cupping. Sekali lagi, “Tak ada salah atau benar di sini,” ujar Agus serius yang kemudian membuka “rahasia” contoh kopi A dan B. Ternyata kopi A adalah jenis arabika Bali Kintamani dan kopi B adalah jenis Guatemala Huehuetenango. Kalau ada peserta yang menunjukkan “ketakpercayaan”, itu bukan hal luar biasa. Inilah gunanya cupping, mengevaluasi mutu kopi.

Menurut Agus, “semestinya” hasil cupping stabil dari waktu ke waktu, sesuai agtron number (tingkat warna sangrai kopi dari yang terterang sampai tergelap) kopi A dan B. Kalau terjadi kesenjangan nilai 10, itu dianggap terlalu jauh, “‘Tertuduh’-nya bisa saya sebagai penyangrai. Saya mesti mengevaluasi, apakah penyebab ‘turunnya mutu’ ini, dimulai dari mutu biji kopinya dari tingkat petani, atau tak pas saat menyangrai dan menyeduh.”

Bali Kintamani, misalnya, “semestinya” memberi sensasi rasa full body, rich aroma, dan nuansa lemon karena tanaman selanya di dataran tinggi Bali adalah jeruk. Di tangan seorang roaster, dari cupping bisa dihasilkan campuran minuman kopi. Misalnya, Rhino Blend dari campuran arabika dan robusta, serta Caswell’s Espresso dari arabika Indonesia dan Amerika Selatan yang dijagokan – jenis bijinya rahasia perusahaan.

Penyebaran ke seluruh penjuru dunia menghasilkan budaya minum kopi yang khas. Membubuhi kopi dengan susu, gula, dan sebagainya juga tak salah. Yang harus dipegang, kopi yang baik, dicampur apapun tetap terasa dan kuat rasa kopinya.

Biarpun berkutat dengan mengolah kopi ala selera dunia, Agustinus tak menampik gaya minum kopi khas Indonesia. “Saya malah ingin ke Yogyakarta untuk menikmati kopi jos. Belum pernah dengar? Konon, sepotong arang membara dicelupkan ke kopi seduh,” kata Agus. Oh, tak terbayang, hitam bertemu hitam ….

Langkah Panjang Menuju Secangkir Saji
Ada sekitar 10 tahap dilalui biji kopi dari benih sampai ke cangkir saji. Panen dari pohon yang siap berbuah mulai usia tiga tahun saat cherry kopi merah matang di bulan ke-8 lalu diolah dengan cara kering (empat minggu dijemur).

Yang lebih baik, cara basah: cherry kopi direndam, yang mengambang disingkirkan karena bermutu jelek, sisanya dibiarkan 36 jam sambil terus disemprot. Selanjutnya dikeringkan dengan sinar Matahari atau mesin dan dikupas memunculkan biji kopi mentah.

Penyimpanan dengan karung goni di suhu kamar 20 – 25 oC untuk mencegah kandungan aroma menghilang di suhu terlalu panas. Karung goni dipilih karena bahan itu masih memungkinkan aliran udara yang disangga agar tak menyentuh langsung tanah atau lantai. Dengan begini, mutu biji kopi bisa tahan lama.

Penyangraian kopi adalah tahap penting yang melahirkan karakteristiknya. Specialty coffeecafé biasa menyangrai sedikit sesuai kebutuhan. Dengan mesin penyangrai menggunakan LPG, 12 kg biji kopi disangrai 18 menit. Aromanya mulai menguar pada menit ke-10. Kopi hasil sangrai diangin-anginkan selama 1 – 24 jam agar tak lembab, lalu simpan dalam kaleng atau plastik kedap udara dengan katup udara yang memungkinkan kita menghirup aromanya dari luar. Biji kopi sangrai bisa bertahan aroma dan rasanya selama 4 – 5 bulan. Biji kopi digiling begitu akan diseduh, sebab kopi bubuk hanya bertahan mutunya selama dua minggu.

(Christantiowati, INTISARI Maret 2007) via nationalgeographic.co.id