Sqoop 1 or Sqoop 2?

Sqoop1 and Sqoop2 are completely different code paths and, as such, have very different feature sets [1]. So, how do we know when we’re using Sqoop1 or Sqoop2? Here’s a quick list of ways:

Different Usecases

1. Sqoop2 has a UI devoted to it, but Sqoop1 does not

The Hue project has a wonderful UI for using Sqoop2, but nothing specific for Sqoop1.

You can run Sqoop1 jobs from Hue, but it has to be through the Job Designer app or the Oozie app.

2. Sqoop2 has an interactive command line interface, Sqoop1 does not

Sqoop2 and Sqoop1 have slightly different command line interfaces. Since Sqoop2 is service oriented and considers metadata first, there is a sequence of steps that’s necessary to start a job:

sqoop:000> create link --cid 1

Creating link for connector with id 1

Please fill following values to create new link object

Name: hdfs1

New link was successfully created with validation status FINE and persistent id 3

sqoop:000> create link --cid 2

Creating link for connector with id 2

Please fill following values to create new link object

Name: mysql

Link configuration

JDBC Driver Class: com.mysql.jdbc.Driver

JDBC Connection String: jdbc:mysql://solaris.abe.cloudera.com/test

Username: root

Password: ****

JDBC Connection Properties:

There are currently 0 values in the map:

entry#

New link was successfully created with validation status FINE and persistent id 4

sqoop:000> create job --from 4 --to 3

Creating job for links with from id 4 and to id 3

Please fill following values to create new job object

Name: MySQLtoHDFS

From database configuration

Schema name:

Table name: test

Table SQL statement:

Table column names:

Partition column name:

Nulls in partition column:

Boundary query:

ToJob configuration

Output format:

0 : TEXT_FILE

1 : SEQUENCE_FILE

Choose: 0

Compression format:

0 : NONE

1 : DEFAULT

2 : DEFLATE

3 : GZIP

4 : BZIP2

5 : LZO

6 : LZ4

7 : SNAPPY

8 : CUSTOM

Choose: 0

Custom compression format:

Output directory: /tmp/sqoop/hdfs

Throttling resources

Extractors:

Loaders:

New job was successfully created with validation status FINE and persistent id 1

sqoop:000> start job --jid 1

Submission details

Job ID: 1

Server URL: http://localhost:12000/sqoop/

Created by: ab

Creation date: 2014-10-21 10:49:24 PDT

Lastly updated by: ab

External ID: job_1412928093521_0015

http://solaris.abe.cloudera.com:8088/proxy/application_1412928093521_0015/

Source Connector schema: Schema{name=test,columns=[

FixedPoint{name=id,nullable=true,byteSize=null,unsigned=null}]}

2014-10-21 10:49:24 PDT: BOOTING - Progress is not available

In Sqoop1, creating a link and job is unnecessary. You just need to specify every thing in the command line:

sqoop import --connect jdbc:oracle:thin:@//localhost/xe --username sqoop --password sqoop --table sqoop --hbase-table sqoop --column-family cf --hbase-row-key id --hbase-create-table --hbase-bulkload

3. Oozie has support for Sqoop1, not Sqoop2 yet

If you want to Sqoop data with Oozie, then you’re going to need to use Sqoop1.

<workflow-app name="test" xmlns="uri:oozie:workflow:0.4">

<start to="MySQL-to-HDFS"/>

<action name="MySQL-to-HDFS">

<sqoop xmlns="uri:oozie:sqoop-action:0.2">

<job-tracker>${jobTracker}</job-tracker>

<name-node>${nameNode}</name-node>

<command>import --connect jdbc:oracle:thin:@//localhost/xe --username sqoop --password sqoop --table sqoop --hbase-table sqoop --column-family cf --hbase-row-key id --hbase-create-table --hbase-bulkload</command>

</sqoop>

<ok to="end"/>

<error to="kill"/>

</action>

<kill name="kill">

<message>Action failed, error message[${wf:errorMessage(wf:lastErrorNode())}]</message>

</kill>

<end name="end"/>

</workflow-app>

4. Cloudera Manager manages Sqoop2 service and Sqoop1

Cloudera manager manages both Sqoop versions (as of CM 5.0). The default Sqoop service that’s installed is the Sqoop 2 service (even though it might be named SQOOP-1).

Which am I Using?

A couple of good ways to know which you version of Sqoop you are using are:

1. Check for /usr/lib/sqoop or /usr/lib/sqoop2

Sqoop2 uses the /usr/lib/sqoop2 directory, while Sqoop1 uses the /usr/lib/sqoop directory. These directories should hold the binaries and content necessary for running both versions of Sqoop.

2. Check for /usr/lib/sqoop or /usr/lib/sqoop2

Sqoop2 uses the /var/lib/sqoop2 directory, while Sqoop1 uses the /var/lib/sqoop directory. These directories should hold extra JDBC drivers necessary for connecting to different data sources (such as Teradata and Netezza).

3. Check /var/log/sqoop2

Sqoop2 stores its logs in /var/log/sqoop2. If this files in this directory are being updated, you’re likely using Sqoop2.

When in doubt about anything, check with the Sqoop mailing list.

Summary

It’s good to know when you’re using Sqoop1 versus Sqoop2. Since integration with the rest of the Big Data ecosystem varies (for instance, there’s a Sqoop2 UI in Hue, but not a Sqoop1 UI), it can get confusing to know which version of Sqoop you’re using. Hopfully the above list cleared things up! Now go get Sqooping!

Source : http://ingest.tips/2014/10/21/sqoop-1-or-sqoop-2/

Dibanderol dengan harga terjangkau, apakah YiCamera benar-benar pesaing GoPro? (REVIEW)

YiCamera menjadi perbincangan di ranah internasional dalam beberapa minggu terakhir setelah mulai dijual di toko online resmi Xiaomi di China dengan harga USD 64 (Rp 834.000). Bagi para penggemar fotografi, nama GoPro dan kamera sejenis lainnya jelas sudah tidak asing lagi, namun pertimbangan harga masih menjadi salah satu alasan sebelum membelinya. YiCamera menggebrak dengan harga kurang dari separuh harga GoPro, dan inilah mengapa kamera ini makin santer dibicarakan.

Satu hal yang perlu dicatat sebelum membicarakan YiCamera lebih jauh adalah kamera ini bukanlah produk Xiaomi, meskipun kerap disebut sebagai “GoPro-nya Xiaomi”. Memang penjualan perangkat ini dilakukan secara eksklusif di website Xiaomi dan banyak mendapat dukungan dari pembuat smartphone asal China tersebut untuk masalah pemasaran dan ketersediaan produk, namun tidak ada satupun branding logo Xiaomi di kameranya. YiCamera dibuat oleh Xiaoyi, yang juga menjual webcam di toko Xiaomi. Ini adalah salah satu dari banyak perangkat pintar hasil kerja sama Xiaomi dengan perusahaan lain.

Di bawah ini adalah perbandingan spesifikasi YiCamera dengan GoPro Hero kelas entry-level:

Kualitas gambar

Bila harus mendeskripsikan kamera ini dalam satu kata, maka jawabannya adalah: sampah. Ketika dilakukan pengujian YiCamera tanpa skenario pengambilan gambar (hanya digunakan untuk mengambil footage) maka akan terasa “cukup baik.” Memang terkadang saya mendapat hasil lumayan, namun kebanyakan adalah sampah. Di atas kertas, spesifikasi dari YiCamera mampu mengambil video dengan resolusi 1080p dan kecepatan 60 FPS yang seharusnya bisa menghadirkan gambar setara dengan kualitas GoPro di 1080p 30 fps. Namun kualitas kamera tentu saja tidak dapat dinilai dari FPS dan besar pixel semata.

Sedikit informasi, sebelumnya saya pernah menggunakan GoPro Hero 3+, sebelum akhirnya tercebur ke sungai. Saya juga sempat membuat video menggunakan alat-alat video amatir hingga profesional seperti kamera smartphone, camcorder kelas consumer, DSLR, hingga kamera profesional yang digunakan di stasiun TV.

Ada dua momen yang saya ambil menggunakan YiCamera: pertama adalah di sebuah konser dengan pencahayaan remang-remang. Kedua adalah saat mengendarai sepeda di Shenzen, lingkungan tempat saya tinggal. Ini adalah contoh video yang telah digabung menjadi satu (sengaja dipercepat untuk membuatnya tetap pendek).

Hal pertama yang menyebalkan, apapun yang tidak ada di tengah frame kehilangan fokus, bahkan yang jaraknya sangat jauh. Ini mengindikasikan bila lensanya dibuat dari material murahan, dan parahnya lagi tidak bisa digunakan pada sudut panjang dengan lebar 155 derajat. GoPro saya tidak pernah mengalami masalah ini, dan bahkan memiliki viewing angle yang lebih lebar.

Rasa kecewa masih berlanjut, karena YiCamera tidak dapat mengenali cahaya terang atau pun backlight. Anda bisa melihat di video yang diambil dari atas sepeda, dimana langit sedang mendung, hasil gambar yang didapat seperti menembus kabut. Sementara ketika dilakukan pengambilan gambar di area dengan cahaya cukup, perlu waktu lama untuk mendapatkan exposure yang seimbang. Di video konser, dengan cahaya gemerlap, mengalami problem serupa. Sulit rasanya untuk mendapatkan gambar masing-masing personel dengan jelas. Tak mengherankan bila hasil rekaman juga menampilkan banyak ‘semut’.

Fitur image stabilization adalah syarat mutlak untuk sebuah action camera. Sayangnya kamera ini kurang memperhatikan itu. Setiap terjadi goncangan, maka detail akan hilang dan distorsi lensa akan membuat hasil gambar menjadi lebih buruk.

Sebenarnya masalah ini tidak akan terjadi bila Xiaoyi memilih untuk menggunakan lensa yang lebih cepat. Aperture pada lensa yang digunakan permanen f/3.6 – rasanya terlalu sempit untuk pengambilan gambar. Sebagai perbandingan, semua varian GoPro dibekali dengan lensa f/2.8 (semakin kecil angkanya, aperture akan semakin lebar). Hal ini akan mengurangi gambar yang blur dan membuat gambar yang didapat jauh lebih tajam.

YiCamera baru menunjukkan performa yang lebih baik ketika digunakan untuk mengambil gambar diam. Tidak terlalu mengecewakan dan warna yang dihasilkan cukup akurat. Akhirnya saya mencoba mengambil gambar dari atap bangunan tempat saya berdiri, dan hasilnya cukup baik. Hasil pengujian menunjukkan bila pengambilan gambar di dalam ruangan masih bisa menghasilkan gambar yang baik, selama pencahayaan mendukung. Hasl foto YiCamera bisa dilihat di sini.

Bicara mengenai suara, hasil yang didapat nyaris sama dengan jika Anda melakukan rekaman dengan mic dari smartphone. Ketika dicoba untuk merekam konser, suaranya terlalu nyaring, namun jelas Anda tidak bisa berharap lebih dari kamera semacam ini bila bicara soal audio.

Desain dan kenyamanan pemakaian

Kebanyakan orang mungkin akan berasumsi bahwa YiCamera adalah GoPro versi China. Terlihat dari bentuk kotak yang khas dan lensa berukuran besar. Secara keseluruhan ukurannya memang sama, namun sedikit lebih lebar dan posisi lensanya membuat Anda tidak mungkin memasangnya di case pelindung milik GoPro.

Seperti halnya GoPro, ada tombol power di depan, tombol shutter di atas, dan tombol Wi-Fi di samping. Tombol power akan menyala dengan warna berbeda yang menunjukkan status baterai dan notifikasi lain yang bisa Anda lihat detailnya di dalam buku panduan. Keberadaan lampu ini adalah sebagai pengganti dari tidak adanya LCD yang biasanya berguna untuk menampilkan persentase baterai yang tersisa, berapa banyak video yang sudah direkam, dan mode apa yang digunakan.

Tombol di bagian depan kamera berfungsi sebagai penganti antara mode foto dan video. Kamera ini selalu berada dalam mode foto saat dinyalakan, sehingga sedikit merepotkan. Yang lebih menjengkelkan dan membuat frustrasi adalah waktu untuk mengaktifkan YiCamera. Jika menggunakan GoPro, Anda hanya memerlukan beberapa menit saja, sampai terdengar bunyi ‘bip’ dan bisa langsung merekam. Sementara pada YiCamera, Anda harus menunggu 10 sampai 15 menit setelah dinyalakan dan tidak ada indikator ketika sudah siap digunakan.

Kualitas bahan dari YiCamera secara keseluruhan cukup solid. Namun perlu dicatat bila YiCamera tidak disertai dengan pelindung apapun – dalam kenyatannya, belum ada toko yang menjualnya – namun yang paling penting adalah jangan sampai lensanya tergores. Dengan menambah USD16 (Rp 250 ribu), Anda bisa mendapatkan tongsis. YiCamera sendiri bisa dipasang ke tripod atau monopod dengan mounting yang sama.

Aplikasi

Aplikasi YiCamera sangat mirip dengan milik GoPro. Rasanya cukup yakin ada campur tangan Xiaomi dalam pembuatannya, karena sangat intuitif dan mudah digunakan. Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengendalikan kamera dan menampilkan preview, selain tentunya untuk memutar video ataupun memindahkan video dari kamera.

Untuk menghubungkan kamera ini ke Wi-Fi via aplikasi juga sangat mudah dan bisa dilakukan dari dalam aplikasinya, meskipun terkadang harus dicoba berkali-kali. Anda juga bisa melakukan streaming konten video yang direkam ke perangkat lain. Tentu saja ukurannya sangat besar dan tidak jarang terjadi crash (dalam pengujian saya menggunakan OnePlus One). Jeda waktu yang terjadi saat melihat hasil perekaman di perangkat lain adalah sekitar 2 sampai tiga detik.

Baterainya juga cukup boros, meskipun secara keseluruhan daya tahan baterai YiCamera masih tetap terbilang baik. Setidaknya saat digunakan dalam pengujian belum pernah sampai mati kehabisan baterai.

Saat dicoba untuk memutar video pada aplikasinya, semua berjalan mulus. Anda juga bisa melihat beberapa informasi penting, seperti sisa baterai dan kapasitas penyimpanan.

Aplikasi ini juga menyediakan beberapa mode pengambilan gambar untuk digabungkan. Anda dapat membuat share. Perlu dicatat, mode ini tidak akan berfungsi tanpa aplikasi.

Apakah layak dibeli?

Bila Anda benar-benar tidak memiliki budget untuk membeli GoPro kelas entry level seharga USD 130 (Rp 1,7 juta), atau kamera sejenis seperti Sony Action Cam (seri HDR-AS20/B kini dijual dengan harga USD 150), namun memerlukan kamera yang bisa digunakan untuk beragam keperluan outdoor, Anda bisa mempertimbangkannya, meskipun jelas ini bukan alternatif untuk GoPro.

Menurut saya, kemampuan perekaman video YiCamera setara dengan kebanyakan smartphone kelas mid-end sampai high-end. Bila Anda memiliki smartphone dengan kamera yang cukup baik, maka lupakan kamera ini. Perlu dicatat bila GoPro memiliki banyak sekali aksesori, dan YiCamera hanya memiliki tongsis. Ada baiknya Anda membuat keputusan tidak semata karena harga, namun juga aksesori yang akan dibeli. Bahkan seluruh GoPro sudah disertai dengan housing waterproof yang membuatnya memiliki nilai plus.

Singkat kata, YiCamera memang mengecewakan, namun saya tidak bisa menolak fakta bila Anda tidak akan menemukan kamera action lainnya di rentang harga yang sama, kerena memang belum ada opsi lain untuk rentang harga ini.

Sumber : https://id.techinasia.com/review-yicamera-pesaing-gopro

Habibie: Hadiah Terbesar Bangsa Cina ke Indonesia adalah Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden ketiga RI BJ Habibie menjelaskan mengenai awal kehadiran Islam di Nusantara. Menurut dia, Islam datang ke Indonesia dan diperkenalkan pertama kali lewaat bangsa Cina, melalui Laksamana Cheng Ho.

“Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam,” kata Habibie ketika memberikan ceramahnya di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (29/8). 
Habibie menjelaskan, Islam lahir di Abad 14 silam. Saat itu, Islam memang belum sampai ke jazirah Tiongkok. Baru ketika jalur perdagangan dibuka 700 tahun kemudian Islam sampai di Cina. Kemudian, Laksamana Cheng Ho datang ke Nusantara membawa misi Damai dan Islam pun dikenal masyarakat Indonesia ketika itu. 
“Ini yang sering Saya katakan ketika Saya bertemu siapa pun, termasuk Tokoh2 Dunia. Ketika Saya ke Cina, Saya diberitahu, umat Islam yang Saya temui ini lah orang-orang yang memperkenalkan Islam ke negara Anda,” kata Dia.
“Saya bilang ke Pimpinan Beijing, Saya bilang ke pimpinan Jerman, agama Islam datang ke Indonesia Damai bukan pePerangan,” kata Dia. 

 Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari Jasa Walisongo (Wali Sembilan). Banyak Versi mengenai Kisah para Wali ini, salah satunya versi yang menyatakan mereka berAsal dari Cina. Tahun 1968, Profesor Slamet Mulyana menulis Versi yang tidak populer itu dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara2 Islam di Nusantara”, namun dilarang beredar karena dinilai dapat memicu perdebatan SARA (Suku, Agama, Ras dan AntarAgama).
WalisongoMenurut Mulyana, orang yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa, yakni Chen Jinwen atau yang lebih dikenal dengan Raden Patah alias Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu). Ia adalah pendiri kerajaan Demak di Jawa Tengah.
WaliSongo dibentuk oleh Sunan Ampel pada tahun 1474. Mereka terdiri dari Sembilan orang Wali; Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang, Sunan Gunung Jati alias Du Anbo-Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu-Ja Tik Su, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/ Tan Eng Hoat, dan Sunan Giri yang merupakan Cucu dari Bong Swie Ho.
Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 di Champa (Kamboja). Saat itu, banyak sekali orang Tionghoa pengAnut Agama Muslim bermukim di sana. Ia tiba di Jawa pada 1443. Tiga puluh enam tahun kemudian, yakni pada 1479, ia mendirikan Mesjid Demak.
Belanda, yang sempat ‘berPerang’ dengan para Wali itu sempat tidak mempercayai bahwa Sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa. Untuk memastikannya, pada 1928, Residen Poortman ditugaskan oleh Pemerintah Belanda untuk menyelidikinya. Poortman lalu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berBahasa Tionghoa. Ia menemukan Naskah kuno berUsia ratusan tahun sebanyak tiga Pedati.
Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga Kontroversial, Tuanku Rao. Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini. Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini terCantum dalam Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun, yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek Hokkian berArti ‘Orang Kuat’. Cucu Raden Patah, Sunan Prawata atau Chen Muming/ Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak. Ia berAmbisi meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila Ia berhasil maka ia bisa menjadi “Segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II), sebanding Sultan Turki Suleiman I dengan keMegahannya.
Kata Walisongo yang selama ini diArtikan Sembilan (Sanga/Songo) Wali, ternyata masih memberikan Celah untuk versi penafsiran lain. Ada yang berPendapat bahwa kata ’Sanga’ (dilafalkan sebagai ‘Songo’ dalam Bahasa Jawa) berAsal dari kata ‘Tsana’ dari bahasa Arab, yang berArti Mulia. Pendapat lainnya menyatakan kata ’Sanga’ berasal dari kata ’Sana’ dalam bahasa Jawa yang berarti Tempat.
Kata Sunan yang menjadi Panggilan para anggota WaliSongo, diPercaya berAsal dari dialek Hokkian ‘Su’ dan ‘Nan’. ‘Su’ merupakan kePendekan dari kata ‘Suhu atau Saihu’ yang berarti Guru. Disebut Guru, karena para Wali itu adalah Guru2 Pesantren Hanafiyah, dari Mazhab Hanafi. Sementara ‘Nan’ berArti Selatan, sebab para pengAnut Aliran Hanafiah ini berAsal dari Tiongkok Selatan.
Perlu diKetahui juga bahwa sebutan ‘Kyai’ yang Kita kenal sekarang sebagai Sebutan untuk Guru Agama Islam, dulu diGunakan untuk memanggil seorang lelaki Tionghoa Totok, seperti pangggilan ‘Encek’. Dan, Sadar atau tidak, baju Muslim yang kerap diGunakan oleh Laki2 Muslim Indonesia sangat mirip dengan pakaian ala China. Baju Koko dan penutup kepala putih diAnggap berAsal dari China, karena di Negeri asal Islam, Timur Tengah, Pakaian ini tidak diKenal.
Sangat diMungkinkan bahwa Cerita2 ini mengandung keBenaran ( walaupun mungkin tidak Semua Walisongo dari Cina ), karena saat itu penduduk lokal Jawa adalah masih Hindu-Buddha dan tentunya apabila ada suatu keBudayaan Baru yang masuk maka pastilah dibawa oleh pendatang dari luar. Mengingat bahwa saat itu Cina sudah menjelajah ke berbagai belahan Dunia termasuk di tanah Jawa maka diMungkinkan salah satu dari mereka adalah pembawa Syiar Agama Islam tersebut. 

Sumber:

* D. A. Rinkes “De heiligen van Java”

* Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”

* B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang

* Utrecht: Den Boer – G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff

* De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java”

* “Islamic states in Java 1500 -1700?.

* Amen Budiman “Mas[truncated by WhatsApp]

Pentingnya makan Buah

Dr Robert Stephen merawat pasien sakit kanker stadium akhir dengan cara yang “tidak ortodoks” dan banyak pasien sembuh.
Sebelumnya ia menggunakan energi matahari untuk membersihkan penyakit pasiennya, ia percaya pada penyembuhan alami dalam tubuh terhadap penyakit. Lihat artikelnya di bawah ini.
Ini adalah salah satu strategi untuk menyembuhkan kanker.

Sampai akhir, tingkat keberhasilan saya dalam menyembuhkan kanker adalah sekitar 80%.
Pasien kanker tidak mati. Obat untuk kanker sudah ditemukan – dengan cara kita makan buah-buahan.
Terserah apakah Anda percaya atau tidak.
Saya minta maaf untuk ratusan pasien kanker yang meninggal di bawah perawatan konvensional.
MAKAN BUAH

Kita semua berpikir makan buah berarti hanya membeli buah-buahan, memotongnya dan hanya memasukkannya ke dalam mulut kita.
Ini tidak semudah yang Anda pikirkan. Ini penting untuk mengetahui bagaimana dan kapan untuk makan buah-buahan.
Apa cara yang benar makan buah-buahan?
Ini BERARTI TIDAK MAKAN BUAH-BUAHAN SETELAH MAKANAN ANDA!
BUAH-BUAHAN HARUS DIMAKAN PADA PERUT KOSONG
Jika Anda makan buah pada saat perut kosong, itu akan memainkan peran utama untuk mendetoksifikasi sistem anda, menyediakan Anda dengan banyak energi untuk menurunkan berat badan dan kegiatan kehidupan lainnya.

Katakanlah Anda makan dua potong roti dan kemudian sepotong buah.

Potongan buah siap untuk pergi langsung melalui lambung ke dalam usus, tetapi terhalang karena roti telah dimakan sebelum buah.

Sementara itu seluruh makanan roti & buah membusuk dan fermentasi dan berubah menjadi asam.

Ketika buah bersentuhan dengan makanan di perut dan jus pencernaan, seluruh massa makanan mulai merusak.

Jadi silahkan makan buah-buahan Anda pada saat perut kosong atau sebelum makan Anda!

Anda telah mendengar orang mengeluh:

Setiap kali aku makan semangka aku bersendawa, ketika aku makan durian perutku kembung, ketika saya makan pisang aku merasa seperti lari ke toilet, dll .. dll ..

Sebenarnya semua ini tidak akan muncul jika Anda makan buah pada waktu perut kosong.

Buah bercampur dengan pembusukan makanan lain dan menghasilkan gas dan karenanya Anda akan kembung!

rambut putih, botak, gugup dan lingkaran hitam di bawah mata semua ini tidak akan terjadi jika Anda mengkonsumsi buah pada waktu perut kosong.

Tidak ada hal seperti beberapa buah-buahan, seperti jeruk dan lemon bersifat asam, karena semua buah-buahan menjadi basa dalam tubuh kita, menurut Dr Herbert CKT yang melakukan penelitian mengenai hal ini.

Jika Anda telah menguasai cara yang benar makan buah-buahan, Anda memiliki RAHASIA dari keindahan, umur panjang, kesehatan, energi, kebahagiaan dan berat badan normal.

Bila Anda perlu minum jus buah – hanya minum jus buah segar, TIDAK dari kaleng, kemasan atau botol.

Bahkan tidak minum jus yang telah memanas.

Jangan makan buah dimasak karena Anda tidak mendapatkan nutrisi sama sekali.

Anda hanya mendapatkan rasanya.

Memasak menghancurkan semua vitamin.

Tapi makan buah utuh lebih baik daripada minum jus.

Jika Anda harus minum jus buah segar, minumlah seteguk demi seteguk secara perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur dengan air liur Anda sebelum menelannya.

Anda dapat melakukan 3 hari berpuasa dengan buah untuk membersihkan atau detoksifikasi tubuh Anda.

Hanya makan buah dan minum jus buah segar sepanjang 3 hari.

Dan Anda akan terkejut ketika teman Anda memberitahu Anda bagaimana Anda terlihat berseri-seri!

KIWI:

Kecil tapi perkasa.

Ini adalah sumber yang baik dari potassium, magnesium, vitamin E & serat.

Kandungan vitamin C-nya adalah dua kali lipat dari jeruk.

APPLE:

Satu apel sehari dapat menghindarkan dari penyakit?

Meskipun sebuah apel memiliki kandungan vitamin C rendah, ia memiliki antioksidan & flavonoid yang meningkatkan aktivitas vitamin C dengan demikian membantu untuk menurunkan resiko kanker usus, serangan jantung & stroke.

STRAWBERRY:

Buah pelindung.

Stroberi memiliki total kekuatan antioksidan tertinggi di antara buah-buahan utama & melindungi tubuh dari penyebab kanker, darah kapal-penyumbatan dan radikal bebas.

ORANGE:

Obat yang paling manis.

Mengambil 2-4 jeruk dalam sehari dapat membantu agar pilek menjauh, menurunkan kolesterol, mencegah dan melarutkan batu ginjal serta mengurangi resiko kanker usus.

SEMANGKA:

Pelepas dahaga. Terdiri dari 92% air, juga dikemas dengan dosis raksasa glutathione, yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita.

Mereka juga merupakan sumber utama likopen oksidan melawan kanker.

Nutrisi lain yang ditemukan dalam semangka adalah vitamin C & Potasium.

JAMBU & PEPAYA:

Top award untuk vitamin C. Mereka adalah pemenang yang jelas untuk kandungan vitamin C tinggi.

Jambu biji juga kaya serat, yang membantu mencegah sembelit.

Pepaya kaya akan karoten; ini baik untuk mata Anda.

Minum air dingin atau minuman setelah makan (umum nya berkandungan minyak dan lemak) = Kanker

Dapatkah Anda percaya ini?

Bagi mereka yang suka minum air dingin atau minuman dingin, artikel ini mungkin berguna untuk Anda.

Menyenangkan sekali jika memiliki secangkir air dingin atau minuman dingin setelah makan.

Namun, air dingin atau minuman akan memadatkan minyak yang baru saja dimakan.

Ini akan memperlambat pencernaan.

Setelah ini ‘lumpur’ bereaksi dengan asam, akan merusak dan diserap usus lebih cepat dari pada makanan padat.

Ini akan berbaris dalam usus besar.

Sangat segera, ini akan berubah menjadi LEMAK dan menyebabkan KANKER!

Cara terbaik setelah makan, adalah dengan minum sup panas atau air hangat.

Catatan penting tentang serangan jantung.

PROSEDUR SERANGAN JANTUNG: (INI BUKAN LELUCON!)

Perempuan harus tahu bahwa tidak setiap gejala serangan jantung adalah sakit pada lengan kiri.

Menyadari rasa sakit di garis rahang.

Anda mungkin tidak pernah memiliki nyeri dada pertama selama serangan jantung.

Mual dan berkeringat intens juga gejala umum.

Enam puluh persen orang yang mengalami serangan jantung saat mereka tertidur dan tidak bangun.

Rasa sakit di rahang bisa membangunkan Anda dari tidur nyenyak.

Mari berhati-hati dan waspada bersama. Semakin banyak kita tahu kesempatan yang lebih baik kita bisa bertahan hidup. 

Sumber : Broadcast Message

Aneka Kesalahan Fotografer Pemula versi Arbain Rambey

Pada zaman kamera masih memakai film dan belum menggunakan rangkaian pembantu elektronik, untuk bisa memotret dengan baik, diperlukan pemahaman teori fotografi yang matang. Secara umum, teori fotografi ini melingkupi cara kerja rana dan diafragma pada kamera, pemahaman akan panjang fokal lensa, pemahaman akan kepekaan rekam film serta pemahaman akan komposisi.

Pada era digital, sebagian besar teori fotografi sudah diambil alih “komputer” pada kamera. Namun, pada era digital pula makin banyak kesalahan baru yang timbul. Kesalahan-kesalahan baru ini timbul karena realitas elektronik dan digital yang juga barang baru di muka bumi ini.

Perusahaan Panasonic telah melakukan survei atas kesalahan-kesalahan pemula yang hasilnya sebagai berikut:

Kesalahan tertinggi pada pemakai kamera digital, yaitu sampai 35,2 persen, adalah baterai habis.

Kamera digital memang hanya bekerja kalau ada baterai di dalamnya. Maka, kamera digital yang laris umumnya punya baterai yang awet, minimal bisa untuk 500 kali pemotretan.

Kesalahan pemula yang menduduki peringkat kedua adalah gambar kabur akibat kamera bergoyang saat digunakan, yaitu mencapai 29,3 persen.

Goncangan kamera alias camera shake memang kesalahan pemakai. Namun, kamera yang baik akan meminimalkan hal ini dengan bentuknya yang ergonomis dan kecepatan rana yang lebih tinggi.

Gambar kabur akibat goyangan subyek yang difoto juga mendominasi hasil survei, yaitu dengan 22,7 persen. Kesalahan ini adalah akibat pemakai salah memperkirakan kecepatan rananya.

Untuk dua kesalahan tersebut, perusahaan Panasonic telah mengatasinya dengan fasilitas ISO otomatis dalam kamera-kamera terbaru mereka. Dengan fasilitas ini, sebuah kamera akan menaikkan setelan ISO kalau mendeteksi kemungkinan adanya goyangan. Dengan naiknya ISO, otomatis kecepatan rana ikut naik.

“Time lag”
Kesalahan pemula yang persentasenya menduduki nomor tiga adalah terlambatnya memotret adegan akibat kelambatan sang kamera bereaksi. Hal ini lazim disebut time lag, yaitu jeda antara saat rana ditekan dan saat kamera bereaksi. Mungkin time lag adalah masa lalu karena saat ini kamera yang beredar umumnya sudah punya reaksi cepat.

Kesalahan yang juga cukup tinggi terjadinya, dengan persentase 16,8 persen, adalah salah fokus. Kesalahan ini umumnya menyangkut focusing pit alias fokus lari ke bidang nun jauh di sana. Oleh Panasonic, kesalahan ini dieliminasi lewat kemampuan kamera mencari fokus ke wajah manusia terdekat alias fasilitas face detection.

Kesalahan-kesalahan lain hasil survei adalah:

  • foto terlalu gelap (19,3 persen),
  • memori penuh (16,5 persen),
  • foto terlalu terang (12,2 persen),
  • salah white balance (6,8 persen),
  • salah penyetelan piksel (10 persen),
  • salah kecepatan rana (5,4 persen), dan
  • salah ISO (3,7 persen).

Di masa mendatang, kalau semua kesalahan sudah bisa diatasi, mungkin siapa pun bisa menghasilkan foto yang bagus secara teknik.

Namun, kembali ke realita bahwa foto bukanlah matematika, foto bagus atau foto buruk secara isi akan terjadi karena faktor ini tidak bisa digantikan komputer seperti apa pun.

Fotografi memang sudah menjadi realita kehidupan modern, bukan lagi hobi atau profesi semata.

Arbain Rambey
Sumber: KOMPAS

Jangan pernah remehkan sekecil apapun kebaikan

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah ia…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah ia, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia…barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI… SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata,
“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” (HR. Muslim)

👤 Ust. Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah حفظه الله تعالى

@kajianislam

Introduction to HIVE

By Tanmay Deshpande

Today’s era as we know is the Data Era. We see data all over places right from our cell phones to the high end enterprise servers, from social networking sites to search engines and from text messages to video calls the data is growing and with the need to process that in cost and time effective manner is increasing.

Seeing that need, Hadoop Ecosystem got into picture which was offering both time and cost effectiveness. Slowly every other organization started using Hadoop and MapReduce programs. At one side the need of Hadoop like systems were increasing on other hand people with those niche skills were very less. To use Hadoop, companies have to have the best Java coders who can write complex Map Reduce codes which were very difficult. Even the companies who had Java developers who can code Map reduce programmers, soon started feeling that dependency on those programmers was increasing day-by-day and even for a smaller set of results, Data Analyst became dependent on those programmers which resulted in slow turn out.

People understood the need of time and decided to create something on top of Hadoop which would be accessible to the wider audience. This is where Hive comes in. Hive provides a SQL (Also known as Hive Query Language or HiveQL ) like interface for users to extract data out of Hadoop system.

SQL knowledge is wide spread and anyone who has decent knowledge would be able to use Hive effectively. Hive translates the query into Java Map Reduce code and runs the same on Hadoop cluster. Hive is best suited for Data Warehousing applications where data is structured, static and formatted. Hive is not a complete database. Design considerations of Hadoop and HDFS impose some constraints on what Hive can do. Hive does not provide row wise update and insert which is a biggest disadvantage of using it. But like we said earlier, Hive is not meant to be used for OTLP applications, it is meant to be used for Data Warehousing applications. As most Hive queries turn out into Map Reduce jobs, hive queries have higher latency due to start up overhead. Because of this, queries that would finish in milliseconds on traditional databases would take more time on Hive even on smaller set of data.

Hive is not OLTP (Online Transaction Processing) tool for sure but its closer to OLAP (Online Analytical Processing) but again it conflicts with word Online in it due to high latency.

So if Hive is neither OLTP nor OLAP then what it is used for? So the answer is Hive is best suited for Data Warehousing Applications where data is stored, mined and reporting is done based on processing. As most Data Warehousing applications are based on relational database models, Hive bridges the gap between these applications and Hadoop.

However, like most SQL interfaces, HiveQL does not conform to ANSI SQL standard. It differs in various ways.

Hive Is

Hive is a data warehousing tool based on Hadoop. As we know Hadoop provides massive scale out on distributed infrastructure with high degree of fault tolerance for data storage and processing. Hadoop uses Map Reduce algorithm to process huge amount of data with minimal cost as it does not require high end machines to process such amount of data. Hive processor converts most of its queries into a Map Reduce job which runs on Hadoop cluster. Hive is designed for easy and effective data aggregation, ad-hoc querying and analysis of huge volumes of data.

Hive Is Not

Even though Hive gives SQL dialect it does not give SQL like latency as it ultimately runs Map Reduce programs underneath. As we all know, Map Reduce framework is built for batch processing jobs it has high latency, even the fastest hive query would take several minutes to get executed on relatively smaller set of data in few megabytes. We cannot simply compare the performance of traditional SQL systems like Oracle, MySQL or SQL Server as these systems are meant to do something and Hive is meant to do else. Hive aims to provide acceptable (but not optimal) latency for interactive querying over small data sets for sample queries

Like we said earlier, hive is not an OLTP (Online transaction Processing) application and not meant to be connected with systems which needs interactive processing. It is meant to be used to process batch jobs on huge data which is immutable. A good example of such kind of data would be Web logs, Application Logs, call data records (CDR) etc.